Guru Susan Idap Guillain-Barre Syndrome, Kok Bisa Lolos Vaksinasi?

Yudha Maulana - detikNews
Senin, 03 Mei 2021 15:16 WIB
Susan, guru honorer di Sukabumi alami kelumpuhan usai menjalani vaksinasi COVID-19.
Guru Susan yang lumpuh di Sukabumi (Foto: Syahdan Alamsyah)
Bandung -

Komda KIPI Jawa Barat menyebut guru Susan Antela (31) telah terpapar virus penyebab Guillan-Barre Syndrome dua pekan sebelum menjalani vaksinasi COVID-19. Lalu bila mengidap virus tersebut kenapa bisa lolos vaksinasi ?

Anggota Komda KIPI Jabar Rodman Tarigan mengatakan, akan sangat sulit untuk mengetahui pengidap virus pemicu GBS pada saat proses screening vaksin COVID-19. Pasalnya, tak ada gejala yang muncul secara langsung saat virus atau bakteri pemicu GBS masuk ke dalam tubuh seseorang.

"Jadi kita agak sulit menanyakan ke siapa pun yang akan divaksinasi gejala-gejala GBS. Jadi agak sulit memang untuk melakukan screening, karena manifestasi (gejala) tidak muncul. Kalau ada batuk atau pilek sudah bisa di-screening. Dia datang dalam kondisi sehat, tapi sudah terpapar oleh sesuatu, inflamasi yang ternyata setelah divaksinasi muncul kondisi tersebut," kata Rodman dalam jumpa pers virtual Komda KIPI Jabar, Senin (3/5/2021).

Ketua Harian Satgas COVID-19 Jawa Barat Daud Achmad mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan komisi KIPi terkait proses screening mendetail bagi penerima vaksin.

"Kita antisipasi di-screening harus lebih detail lagi, karena ini ranahnya medis," ujar Daud dalam kesempatan yang sama.

Berdasarkan laporan Komda KIPI ke Komnas KIPI, Susan mengeluhkan keburaman mata dan kelemahan anggota gerak setelah 12 jam pascaimuniasi. Kemudian, guru SMAN 1 Cisolok Sukabumi itu dirujuk ke RSHS untuk mendapatkan perawatan, sekaligus diinvestigasi penyebab sakitnya oleh tim Komda KIPI Jabar.

Dari hasil pemeriksaan, Susan didiagnosa mengalami GBS. "Belum ada bukti temuan yang kuat, terhadap SA terkait KIPI ini," katanya.

Ketua Komda KIPI Jabar Kusnandi Rusmil mengatakan, berdasarkan laporan pada kanal web progres vaksinasi Kemenkes, pada 1 April hingga 21 April telah dilakukan vaksinasi hampir 20 juta dosis.

Kendati begitu, tidak diketemukan keluhan gejala klinis serupa yang dialami Susan. "Termasuk pada uji klinis vaksin 1, 2 dan 3. Belum ada bukti kelemahan anggota gerak dan keburaman mata dengan vaksin COVID-19," tutur Kusnandi.

"Dikatakan bahwa dua minggu sebelum imunisasi sebetulnya ini sudah terjadi infeksi yang tanpa gejala, jadi sudah ada gejala yang tanpa gejala yang menimbulkan reaksi GBS, jadi waktu disuntik besoknya terjadi kelumpuhan itu kebetulan saja," kata Kusnandi menambahkan.

Dokter spesialiasi neurologi Dewi Hawani menerangkan, bahwa GBS ini memang diawali dengan infeksi virus. Tetapi kelumpuhan tidak disebabkan oleh virus secara langsung, melainkan oleh sistem imun yang menyerang sel saraf yang terinfeksi oleh virus.

"Virus dan bakteri ini tidak langsung merusak syaraf, tetapi menyerang saraf karena proses autoimun. sel saraf yang mengurus motorik atau mata, pada selnya itu berubah menjadi sel bakteri, sehingga dikenal oleh sistem imun kita sebagai zat yang harus dimusnahkan," ujar Dewi.

"Maka gejala-gejala sistem imun tubuh sendiri yang menyerang sel saraf karena terinfeksi sistem imunnya karena terinfeksi oleh bakteri. bukan oleh infeksi langsung, tetapi proses imunologi yang salah gejala-gejalanya tergantung saraf yag kena tapi yang sering saraf motorik untuk mengurus gerakan lengan, kaki. memang gejalanya gejala kelumpuhan tungkai dan tangan, yang berat itu mengenai otot-otot yang mengurus pernafasan," pungkas Dewi.

Simak Video: Sambil Terisak, Guru Susan Cerita Dirinya Lumpuh Usai Vaksinasi

[Gambas:Video 20detik]



(yum/mud)