Ini Rencana Raden Rangga Sunda Empire Usai Bebas dari Bui

Dony Indra Ramadhan - detikNews
Senin, 26 Apr 2021 12:56 WIB
Raden Rangga Sunda Empire
Raden Rangga, Sunda Empire (Foto: Dony Indra Ramadhan/detikcom).
Bandung -

Raden Rangga Sasana sudah bebas dari bui usai mendapatkan program asimilasi. Setelah bebas, Rangga mau kembali atur tatanan dunia?

Seperti diketahui, Rangga bersama kelompoknya Sunda Empire kerap mengklaim menjadi penguasa dunia dan pengatur tatanan dunia. Hal itu diungkapkan mereka sebelum diciduk polisi dan menjalani hukuman.

Erwin Syahduddi kuasa hukum Raden Rangga bicara langkah kliennya ke depan usai bebas. Terkait akan mengatur tatanan kehidupan di dunia saat ini, Erwin menyerahkan kepada kliennya.

"Sejauh ini sih belum, cuma kalau memang saya pas sering komunikasi dengan beliau, kan beliau penganut thoriqoh ya, jadi olah batinnya sudah kuat. Jadi apa yang diucapkan itu merupakan suatu doa, dan doanya orang ahli ibadah itu bisa dikabulkan. Jadi kalau dia punya semangat niat baik untuk memulihkan kondisi sekarang ini menjadi normal ya bisa aja ya. Kan di luar kuasa kita itu," ujar Erwin kepada detikcom, Senin (26/4/2021).

Erwin menuturkan Rangga sendiri saat ini berada di Bekasi bersama anaknya. Sejauh ini, belum ada obrolan lagi dari Rangga kepada Erwin terkait rencananya ke depan.

"Sejauh ini, kemarin pas komunikasi sih beliau masih semangat untuk bisa memulihkan keadaan ekonominya dengan kurang lebih Sunda Empire yang sudah lumayan heboh lah, paling enggak momen itu mau dibuat ke arah yang positif. Entah nanti buat karya buku atau buat yayasan, atau mungkin bikin konten lah yang lebih membangun," kata dia.

Saat disinggung soal eksistensi Rangga di Sunda Empire, Erwin menyebut kelompok itu sudah membeku usai para petingginya dibui. Sehingga, kata dia, belum tahu apakah Rangga akan menghidupkan kembali Sunda Empire atau tidak.

"Ya sebenarnya walaupun statusnya sudah bubar ya, walaupun eksistensi perkumpulan itu hak suatu warga negara untuk berkumpul Nah jadi untuk masalah sunda empirenya masih cooling down dulu, karena kita gak tahu kan, karena kepalanya yang ada di Bandung tuh, Nasri dan Ratna," tutur Erwin.

Meski demikian, gerak Rangga sendiri saat ini masih terbatas. Sebab, dirinya masih berstatus narapidana meski sudah berada di luar penjara.

"Iya kan kalau asimilasi tetap ada wajib lapor ya, dan memang masih ada proses integrasi lah untuk bisa berbaur dengan masyarakat, jadi untuk aktivitasnya juga dibatasi. Jangan sampai yang menimbulkan suatu kegaduhan atau melakukan hal-hal yang kemarin lagi," ucapnya.

Sementara itu, Kalapas Banceuy Tri Saptono menyebut Raden Rangga berkelakuan baik selama menjalani masa tahanan.

"Ya lancar, semua kegiatan keagamaan, kegiatan pembinaan, jalan semua," ujar Kalapas Banceuy Tri Saptono saat dikonfirmasi, Senin (26/4/2021).

Selain Raden Rangga, petinggi Sunda Empire lainnya yang juga dibui di Lapas Banceuy, Nasri Banks juga sudah bebas. Keduanya mendapatkan program asimilasi dari Kementerian Hukum dan HAM.

Dengan keluarnya Raden Rangga dari bui, total Raden Rangga menghuni Lapas Khusus narkotika itu selama enam bulan. Raden Rangga sendiri dieksekusi jaksa pada November 2020.

Sebelum keluar dari Lapas Banceuy, Tri sudah memberi pesan kepada Raden Rangga. Salah satunya untuk tidak mengulangi perbuatan sebelumnya.

"Sudah disampaikan, pokoknya ini asimilasi rumah, tidak boleh keluar kota, tidak melalukan hal-hal seperti ini, saya bilang nyawanya pak Rangga itu ada dua, nyawanya LP dan nyawanya Pak Rangga sendiri," tuturnya.

Sebelumnya, tiga petinggi Sunda Empire dinyatakan terbukti bersalah menyebarkan berita bohong hingga menimbulkan keonaran. Ketiga petinggi divonis 2 tahun penjara.

Putusan dibacakan majelis hakim yang diketuai oleh T Benny Eko Supriyadi di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung, Senin (27/10/2020). Ketiga terdakwa yakni Nasri Banks, Raden Ratna Ningrum dan Raden Rangga Sasana hadir mendengarkan putusan tersebut.

"Mengadili, menjatuhkan pidana terhadap ketiga terdakwa pidana masing-masing dua tahun," ucap hakim saat membacakan amar putusannya.

Dalam putusannya, hakim menyatakan ketiganya terbukti bersalah menyiarkan berita bohong hingga menimbulkan keonaran. Hal itu sesuai dengan dakwaan jaksa penuntut umum yang sesuai Pasal 14 ayat (1) Undang-undang Nomor 1 tahun 1946.

(dir/mso)