Curhat Warga Pandeglang Harus Tandu Ibu Hamil 4 Km Akibat Jalan Rusak

Rifat Alhamidi - detikNews
Senin, 26 Apr 2021 12:07 WIB
Ibu hamil di Pandeglang harus ditandu saat hendak melahirkan
Foto: Ibu hamil di Pandeglang harus ditandu saat hendak melahirkan (Dokumentasi warga).
Pandeglang -

Lina Karlina (25), ibu hamil asal Kampung Lebak Jeruk, Desa Pasir Lancar, Kecamatan Sindangresmi, Pandeglang, Banten harus ditandu sejauh 4 kilometer saat hendak melahirkan ke Puskesmas. Ibu muda tersebut terpaksa dibawa menggunakan sarung yang diikat ke sebatang bambu oleh warga lantaran kondisi jalan di sana rusak parah dan tidak bisa dilalui kendaraan.

Cerita pilu Lina ini pertama kali dibagikan oleh warga bernama Muhtadin di akun medsosnya. Kepada detikcom, Muhtadin mengaku ikut mengantarkan Lina ke puskesmas setempat setelah ibu muda tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan padahal sudah mengalami kontraksi selama 2 hari.

"Jadi, kejadiannya itu pas minggu kemarin (20/4/2021) kang. Keluarganya panik karena si ibu ini udah dua hari mules tapi enggak ada tanda-tanda, ya udah akhirnya warga inisiatif bawa si ibunya itu pakai tandu ke puskesmas karena jalannya juga rusak parah," katanya saat dihubungi wartawan di Pandeglang, Banten, Senin (26/4/2021).

Muhtadin menyebut, ia dan belasan warga saat itu harus menempuh perjalanan sekira dua jam untuk sampai di puskesmas. Medan jalan yang mereka lalui pun mayoritas hanya berupa hamparan tanah, ditambah saat itu jalanan berubah menjadi berlumpur setelah malamnya wilayah Sindangresmi dilanda hujan deras. Untungnya setelah tiba ke Puskesmas, Lina langsung mendapat perawatan dari bidan untuk proses persalinan.

"Masuk ke puskesmas itu jam 10 pagi, Alhamdulillah persalinannya lancar dan bayinya perempuan lahir pas jam 11 malam. Si ibunya juga selamat kang pas melahirkan," ungkapnya.

Meski berhasil membantu melewati proses persalinan, Muhtadin mengaku tindakannya itu sempat ditentang oleh dari bidan desa setempat. Pasalnya, ia dan warga lainnya disebut tidak berkoordinasi dulu dengan bidan desa saat membawa Lina ke puskesmas.

"Sebetulnya pas dibawa itu kami memang enggak bilang lagi sama bidan desa. Soalnya kan udah darurat kang, udah pada panik keluarganya juga, makanya sama kami langsung ditandu ke puskesmas. Eh enggak tahunya ternyata kena denda," ucapnya.

Meski demikian, Muhtadin dan warga lainnya tidak terlalu ambil pusing dengan kondisi waktu itu. Ia pun lalu meminta izin kepada Duloh, suami Lina, agar bisa membagikan cerita ibu hamil ditandu ini ke media sosial miliknya.

Alasannya, karena Muhtadin menginginkan akses jalan di desanya bisa mendapat perhatian dari pemerintah. Sebab sejak kecil, akses jalan di wilayahnya itu belum pernah tersentuh pembangunan hingga sekarang.

"Saya berani posting karena sudah dapat izin dari keluarganya, justru saya posting di medsos supaya pejabat bisa tahu kondisi di desa saya itu bagaimana. Soalnya mungkin itu jalan dari zaman Belanda belum pernah dibangun kang, aspal juga sama sekali belum masuk ke sana," keluh Muhtadin.

"Intinya, warga di sini enggak mau ada apa-apa pas lihat tetangga mau melahirkan. Soalnya banyak kejadian kang, si bayinya itu enggak bisa ketolong karena jalannya yang rusak pas mau dibawa ke puskesmas. Jadi mending kami dimarahin sama bidan yang penting semuanya bisa selamat," tambahnya

Cerita ibu hamil harus ditandu saat hendak melahirkan juga datang dari wilayah Karang Bolong, Kecamatan Cigeulis, Pandeglang, Banten. Sama seperti Lina, ibu hamil bernama Anis ini turut ditandu menggunakan sarung yang diikat ke sebatang bambu ke puskesmas pembatu (Pustu) setempat yang jaraknya harus ditempuh sejauh 3 kilometer.

Saat itu, Anis terpaksa ditandu oleh warga lantaran akses jalan dari rumahnya sama sekali tidak bisa dilalui kendaraan roda empat maupun roda dua. Insiden memilukan ini diketahui terjadi pada Jumat (16/4/2021) silam.

"Iya a, akses jalannya tidak layak. Makanya pasien yang mau melahirkan itu ditandu oleh warga dengan menggunakan kain sarung," Marinah, warga yang ikut mengantar Lina ketika ditandu ke pustu setempat saat dikonfirmasi wartawan.

Meski harus ditandu, Marinah menyebut kondisi ibu dan bayinya selamat setelah melewati proses persalinan. Marinah pun mengaku sudah meminta izin ke pihak keluarga sang ibu untuk memposting kisah tersebut ke akun media sosial miliknya supaya bisa diperhatikan oleh pemerintah.

"Intinya begitu. Saya posting informasi ini juga biar semuanya tahu, mudah-mudahan kan bisa didengar terus ditindaklanjuti," harapnya.

(mso/mso)