Salut! Siswa Tunanetra di Cimahi Produktif Bikin Keset Saat Pandemi

Whisnu Pradana - detikNews
Minggu, 18 Apr 2021 10:04 WIB
Siswi disabilitas netra di Cimahi produktif bikin keset selama pandemi
Siswi disabilitas netra di Cimahi produktif bikin keset selama pandemi (Foto: Whisnu Pradana)
Cimahi -

Pandemi COVID-19 membuat siapapun mesti memutar otak untuk lebih kreatif demi bisa bertahan hidup. Pun demikian bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik tetap harus produktif.

Bukti nyatanya yakni para siswa penyandang disabilitas netra di bawah binaan LSM Titipan Anak Bangsa di Kompleks SLB Negeri A Citeureup, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi.

Keterbatasan fisik tak membuat mereka berpangku tangan dengan mengharap belas kasih tanpa berbuat sesuatu. Justru mereka mampu mengasah keterampilan dengan melakoni wirausaha mulai dari membuat panganan ringan makaroni kering hingga keset dari limbah kain.

Ketua LSM Titipan Anak Bangsa Yulianti Rahayu Rivai mengatakan ide berwirausaha yang dilakoni para siswa penyandang tunanetra merupakan upaya untuk tetap mandiri.

"Kita berupaya memberdayakan anak-anak dilihat dari potensi mereka. Akhirnya muncul ide berwirausaha yang disesuaikan dengan kemampuan mereka sebagai penyandang disabilitas," ungkap wanita yang akrab disapa Yuli itu kepada detikcom, belum lama ini.

Total ada 34 orang siswa di bawah binaannya, dengan rentang pendidikan mulai dari SD, SMP, SMA, hingga universitas. Daerah asal merek pun tak main-main, ada yang dari sekitaran Jawa Barat bahkan dari Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Pelatihannya itu mulai dari membuat makanan seperti makaroni kering dan cemilan lainnya. Kalau sekarang mereka sedang giat membuat keset hingga tas jinjing dari limbah kain," katanya.

Sebelum praktik membuat keset para siswa telah dilatih oleh pendamping sebelumnya. Pelatihan tersebut menggunakan template atau cetakan berupa kayu berbentuk persegi sesuai ukuran keset yaitu sekitar 80 cm x 50 cm dan 40 cm x 30 cm dengan paku berjejer di tiap sisi untuk memudahkan penganyaman kain. Setelah selesai dianyam, keset diikat agar anyaman tidak lepas.

"Harga jualnya mulai Rp 25 ribu untuk ukuran kecil dan Rp 40 ribu untuk ukuran besar. Ini untuk menyemangati anak-anak yang membuat agar mereka termotivasi untuk wirausaha," terangnya.

Waktu pembuatan keset tergantung kemampuan masing-masing anak. Mengingat mereka tak menargetkan agar keset harus cepat selesai. Tentu mereka mengalami kendala, terutama pada ketersediaan bahan baku kain bekas.

"Ada yang tiga hari baru selesai satu keset tapi ada juga yang sebulan belum beres. Yang penting mau mengikuti kegiatan karena dapat menambah kemampuan mereka. Di samping itu melatih kerjasama dan kesabaran anak-anak. Kendalanya ya tidak semua limbah kain bisa diolah menjadi keset meski harga relatif murah," jelasnya.

Salah seorang siswa yang terlibat dalam pembuatan keset tersebut yakni Siti Opin Novilah. Siswa kelas 12 SLBN A Citeureup itu mengaku cukup kerepotan saat menganyam kain hingga membentuk keset.

"Belajarnya cukup lama karena susah. Alhamdulillah sudah bisa lancar menganyam meski untuk penyelesaian akhir masih dibantu," kata Siti.

Siti berujar meski penglihatannya tidak seperti orang normal lainnya namun tidak menghambat dalam pembuatan keset. Dirinya menerima segala kekurangan dan menjadikannya motivasi untuk terus belajar mandiri.

"Alhamdulillah tidak jadi hambatan (untuk tunanetra). Senang bisa belajar bikin keset jadi menambah keterampilan dan belajar mandiri," tuturnya.

(mud/mud)