Prostitusi di Jabar Libatkan Muncikari Cilik-Ibu Kandung, Ini Kata Sosiolog

Dony Indra Ramadhan - detikNews
Sabtu, 17 Apr 2021 19:26 WIB
gambaran situs on line
Foto: Edi Wahyono
Bandung -

Kasus prostitusi terungkap di sejumlah daerah di Jabar. Bahkan gadis remaja ikut terlibat mengatur prostitusi online hingga ibu kandung tega menjual anaknya sendiri. Lalu apa penilaian sosiolog mengenai geliat kasus prostitusi di Jabar?

"Jawa Barat ini memang dari dulu sudah menjadi daerah paling tinggi prostitusinya. Bahkan beberapa tempat seperti Cianjur, Indramayu, Subang itu juga dikenal di mana warganya keluar Jawa Barat dan teridentifikasi di tempat yang lain," ujar Sosiolog Unpad Ari Ganjar kepada detikcom, Sabtu (17/4/2021).

Ari menuturkan upaya pemerintah dalam memberantas praktik prostitusi dengan menutup lokalisasi dan memberi insentif PSK juga tak menjamin prostitusi hilang. Sebab, kata Ari, pelaku prostitusi akan mencari jalan lain dan berpindah tempat ke daerah lain.

"Kenyataannya mereka berputar dari satu daerah, dari satu provinsi ke provinsi lain. Itu berputar. Ada kemungkinan penutupan di daerah lain turut mempengaruhi tingginya di Jawa Barat," kata dia.

Selain itu secara lingkungan dan juga budaya, Ari menuturkan Jawa Barat termasuk daerah yang secara perputaran ekonomi tertinggi di Indonesia. Hal ini juga ditambah situasi urbanisasi dan industrialisasi di Jawa Barat yang mendukung praktik itu berkembang.

"Kondisi tersebut turut menyuburkan bisnis prostitusi. Karena itu tadi, banyak pendatang aktivitas bisnis dan tempat prostitusi dapat keuntungan dalam situasi dan kondisi semacam itu," tuturnya.

Sementara itu berkaitan dengan kasus remaja di Bogor yang menjadi muncikari dan ibu di Majalengka yang menjual anak kandungnya sendiri, Ari punya pandangan sendiri. Untuk kasus muncikari cilik, Ari menilai hal itu terjadi karena beberapa faktor seperti faktor digitalisasi hingga ekonomi.

"Terlibatnya atau adanya fenomena remaja terlibat ini menandakan aktivitas itu sudah menjadi terprivatisasi atau dalam arti dilakukan secara individu, secara kelompok tersendiri bukan dalam satu rangkaian bisnis yang besar. Tapi di sini kelompok remaja yang mengelola sendiri ini artinya prostitusi dilakukan semakin terindividualisasi. Dan bagaimana remaja ini dia mampu artinya saya kira ada kaitannya dengan internet dan media sosial. Artinya punya pengetahuan itu, punya kemampuan itu yang secara sendiri barangkali nah ini dengan fasilitas dan sarana itu," kata dia.

Sementara terkait ibu yang jual anak kandung di Majalengka, Ari menilai hal itu dilatarbelakangi oleh faktor ekonomi.

"Ibu yang jual anak ini juga barangkali terkait fenomena kemiskinan itu," tuturnya.

Seperti diketahui, polisi mengungkap praktik prostitusi online di Jawa Barat di beberapa daerah. Di Majalengka, seorang ibu kandung berinisial TA (45) nekat menjual anak kandungnya sendiri Y (25) untuk dijadikan budak seks.

Polisi sudah menangkap TA. Ia diringkus di rumahnya, Desa Genteng, Kecamatan Dawuan, Jumat 12 Maret 2021. Dalam aksinya, TA menjual Y untuk melakukan praktik prostitusi online dengan bayaran Rp 500 ribu sekali kencan.

Selain di Majalengka, prostitusi online juga terungkap di Kota Bogor. Gadis berusia 17 tahun terlibat menjadi muncikari. Selain muncikari, polisi juga mengamankan pria yang menyediakan kamar apartemen.

Muncikari dan penyedia kamar di apartemen itu mengaku sudah dua bulan melakoni prostitusi online. Mereka memanfaatkan Facebook untuk menjaring pria hidung belang. Sang muncikari menyediakan sejumlah wanita belia sebagai budak seks. Adapun tarif yang dipatok sebesar Rp 700 ribu sekali kencan.

Gadis berperan muncikari dan pemuda penyedia kamar itu ditangkap polisi di kamar apartemen yang berlokasi di Kecamatan Tanahsareal. Sewaktu polisi menggerebek, ternyata di dalam kamar itu ada tiga wanita berusia di bawah umur yang terlibat prostitusi online.

(dir/ern)