Penantian Warga Korban Tsunami Selat Sunda Dambakan Rumah Layak Huni

Rifat Alhamidi - detikNews
Senin, 12 Apr 2021 19:08 WIB
Warga Pandeglang korban tsunami berharap segera menempati hunian tetap
Warga Pandeglang korban tsunami berharap segera menempati hunian tetap (Foto: Rifat Alhamidi)
Pandeglang -

Warga Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten hingga kini masih mendambakan rumah layak huni yang bisa mereka tempati. Pasalnya, sudah hampir tiga tahun mereka terpaksa tinggal di hunian sementara (Huntara) setelah rumahnya hancur disapu tsunami selat Sunda.

Nurjah, korban tsunami selat Sunda mengatakan, hingga sekarang janji pembangunan hunian tetap (huntap) dari pemerintah belum ada kejelasan. Mereka pun tak berdaya untuk pindah ke tempat lain yang lebih layak lantaran tidak punya biaya meskipun hanya sekedar mengontrak.

"Justru kami milih bertahan tinggal di sini karena enggak punya biaya. Boro-boro buat bangun rumah lagi, buat ngontrak per bulan juga kami enggak sanggup," katanya kepada detikcom saat ditemui di Huntara Desa Sumberjaya, Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten, Senin (12/4/2021).

Nurjah menyebut, pada awalnya ada 230-an KK yang tinggal di huntara. Namun seiring waktu, mayoritas penghuni di sana memilih meninggalkan bangunan seluas 4x4 itu dan membangun rumah kembali meski sederhana. Mereka yang memilih pergi, merasa sudah jenuh menunggu janji pemerintah karena tak kunjung ada kejelasan.

"Sekarang sisanya yang masih bertahan ada 67 KK. Kebanyakan udah pada ninggalin huntara, ada yang ngebangun saung kang, sisanya kebanyakan ngontrak di tempat orang," ucap Nurjah.

"Kami geh sebenarnya bukannya enggak mau buat kayak gitu kang, tapi biayanya dari mana. Mau kembali lagi ke tempat lama, rumahnya udah enggak ada, udah hancur. Belum lagi masih trauma kang, enggak sanggup," tambahnya.

Nurjah merupakan korban tsunami selat sunda pada 2018 silam. Rumahnya yang berada di pesisir Pantai Sumur, Pandeglang hancur disapu ombak. Tak ada harta benda yang tersisa saat itu, bahkan ia hanya membawa pakaian seadanya saat pindah ke huntara bersama anggota keluarganya.

Selain kehilangan rumah, Nurjah juga kehilangan satu-satunya mata pencaharian sebagai nelayan. Kini dia pun sudah jarang ke laut dan hanya bekerja serabutan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

"Dulu pas awal-awal memang ada bantuan sembako sama jaminan Rp 10 ribu per kepala. Tapi cuma bertahan beberapa bulan doang kang, sisanya kami harus usaha sendiri lagi," ungkapnya.

Meski begitu, pada bulan lalu warga huntara sempat dijanjikan pembangunan hunian tetap bagi mereka segera direalisasi. Namun, wacana tersebut rupanya malah memunculkan dilema baru bagi penghuni di sana.

Pasalnya, sejumlah penghuni huntara yang tadinya memilih tidak mengambil bangunan 4x4 itu kini berdatangan kembali dan berharap bisa mendapat jatah huntap. Padahal, Nurjah merasa 67 KK yang saat ini masih bertahan di huntara merupakan warga yang perlu diprioritaskan supaya mendapatkan huntap.

"Bulan kemarin itu janjinya mau segera dibangun huntapnya. Tapi, akhirnya semua serba bingung. Banyak yang minta huntap sementara datanya enggak jelas. Harusnya kan yang di sini dulu yang diprioritaskan, tapi ini juga kami enggak tahu nanti bisa dapat huntap apa enggak, masih belum jelas informasinya," tuturnya.

Ia pun berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan huntap bagi warga korban tsunami selat sunda di sana. Minimalnya kata dia, huntap tersebut bisa dialokasikan bagi 67 KK yang saat ini masih bertahan di huntara.

"Ya pengennya yang di sini dulu, kan udah kelihatan jelas kalau yang di sini itu memang butuh huntap. Udah hampir 3 tahun loh kang kami bertahan di sini, enggak ada biaya soalnya kalau harus bikin rumah lagi," katanya.

Sementara berdasarkan pantauan di lokasi, huntara di Desa Sumberjaya, Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten sudah banyak yang ditinggalkan oleh penghuninya. Hanya ada beberapa blok huntara yang ramai oleh aktivitas warga, sisanya dibiarkan kosong dan masih beralaskan tanah karena sudah lama ditinggalkan.

Warga lainnya, Jana juga berharap pemerintah segera merealisasikan janji pembangunan huntap di sana. Mereka sudah lama merindukan suasana rumah dan kumpul dengan anggota keluarga seperti sedia kala.

"Serba terbatas kang kalau tinggal di sini (huntara), ini aja kami betah-betahin. Ya pengennya mah segera pindah ke huntap, biar kalau hujan-panas masih bisa nyaman kalau tinggal di rumah enggak kayak di sini," pungkasnya.

Simak juga video 'Data Lengkap Korban & Kerusakan Akibat Gempa Malang':

[Gambas:Video 20detik]



(mud/mud)