Tim Dokter RSHS Berhasil Pisahkan Bayi Kembar Siam Asal Soreang

Siti Fatimah - detikNews
Rabu, 07 Apr 2021 20:06 WIB
Ketua tim dokter pemisahan bayi kembar siam RSHS Dikki Drajat Kusmayadi Surachman
Ketua tim dokter pemisahan bayi kembar siam RSHS Dikki Drajat Kusmayadi Surachman (Foto: Istimewa).
Bandung - Tim dokter RSHS Bandung berhasil melakukan operasi pemisahan bayi kembar siam dempet perut Hasna-Husna asal Soreang, Kabupaten Bandung. Sebanyak 90 orang tenaga medis dan non medis dilibatkan dalam operasi tersebut.

Ketua Tim Kembar Siam Dikki Drajat Kusmayadi Surachman mengungkapkan proses operasi Hasna-Husna dilakukan selama kurang lebih delapan jam. Operasi pemisahan difokuskan pada pemisahan liver.

"Secara teori, bayi kembar siam direkomendasikan untuk operasi pemisahan itu sekitar usia 6 bulan, sekarang usianya (Hasna-Husna) 8 bulan, saya pikir ideal," kata Dikki dalam rekaman video yang diterima detikcom, Rabu (7/4/2021).

Dia membeberkan proses operasi pemisahan bayi kembar dempet perut (kembar omphalopagus) tersebut. Awalnya, bayi kembar siam datang dari ruang PICU kemudian dipersiapkan dengan obat bius, akses pembuluh darah, dan obat-obatan lain.

"Kita mulai menyayat sekitar jam 10.00 WIB kemudian dimulai oleh dokter bedah plastik, satu tim melakukan desain, kenapa harus di desain? Karena nanti setelah dipisahkan kemungkinan penutupan agak sulit karena otot atau kulitnya tidak memungkinkan untuk penutupan sederhana," jelasnya.

Setelah dilakukan desain dan penyayatan bagian perut dan dada oleh dokter bedah plastik, operasi berlanjut oleh dokter bedah toraks untuk melakukan operasi jantung.

"Toraksnya dibuka, tulang dada dilepaskan. Setelah terbuka memang tampak ada selaput jantung (penutup jantung yang bersatu) itu tidak dibuka dulu tapi dokter bedah jantung memberikan akses kepada dokter bedah anak untuk memudahkan pemisahan liver. Kemudian ganti dokter bedah anak yang masuk melakukan pemisahan liver," sambung Dikki.

Dia menjelaskan, pemisahan liver berlangsung lebih cepat dari perkiraan yaitu sekitar satu jam. Pihaknya menemukan ketebalan liver dari atas ke bawah sekitar 10 centimeter dengan ketebalan 5 centimeter.

Sementara itu, sistem pencernaan dari bayi kembar siam sudah memiliki satu di masing-masing tubuh. Setelah terpisah bagian liver, operasi dilanjutkan di ruang yang berbeda dari masing-masing bayi.

"Jadi masing-masing bayi mempunyai tim tersendiri. Dilakukan penutupan dinding dada oleh bedah toraks dan bedah plastik, memisahkan kulit dan membuat pola lagi untuk melancarkan penutupan," ujarnya.

"Tantangan paling berat sebenarnya pemisahan liver kemudian pemisahan selaput jantung. Jantungnya satu membungkus dua jantung, jadi jantungnya dibungkus selaput kemudian harus dipisah. Dan kemudian selaputnya ditutup lagi. Sejauh ini memang stabil anaknya, dalam perjalanan operasi tidak tampak kendala yang berarti," kata Dikki.

Secara total, operasi pemisahan bayi dilakukan dalam kurun waktu delapan jam. Dia mengatakan, jika kondisi bayi semakin stabil maka ke depan tidak diperlukan adanya operasi lanjutan.

"Kalau penutupan perut, berjalan lancar tidak ada infeksi atau penolakan Insya Allah mudah-mudahan tidak diperlukan lagi operasi. Kemudian yang luka dikanan bisa membutuhkan operasi penutupan kulit dengan bantuan pencangkokan kulit," tuturnya.

Saat ini, pihaknya tengah melakukan observasi secara ketat untuk melihat kondisi kedua bayi kembar siam yang sudah dipisahkan. "Perawatan tentu akan kita observasi ketat karena setelah ini kita harus melihat bagaimana pernafasannya, adakah pendarahan kemudian adakah kondisi perut yang ketat, itu akan kami follow up," tandas Dikki. (mso/mso)