Menebar Jutaan Kebaikan 'Daun Ajaib' dari Perbukitan Bandung

Yudha Maulana - detikNews
Rabu, 31 Mar 2021 11:41 WIB
Anak-anak merasakan manfaat dari mengonsumsi daun kelor
Anak-anak merasakan manfaat dari mengonsumsi daun kelor (Foto: Yudha Maulana)

Memanen Bahan Cemilan Anak Bergizi dari Tani Pekarangan

Odesa membuat kelompok tani Tanaman Obat Cimenyan (Taoci) di sana selain kelor juga ditanam tanaman lainnya seperti sorgum, hanjeli, daun Afrika, bunga matahari, bunga telang, juga tanaman buah. Gerakan ini berjalan progresif, karena Odesa juga dimotori oleh berbagai kalangan di antaranya mahasiswa, cendekiawan, seniman dan wartawan.

"Untuk yang tak punya lahan luas, kita kenalkan juga konsep tani pekarangan, ibu-ibu dan warga desa lain yang tak punya lahan luas juga kita kenalkan dengan konsep ini. Minimal mereka memetik hasil berkebun di pekarangan mereka untuk dikonsumsi sendiri, jadi uang untuk belanja sayur harian bisa dialokasikan untuk bayar listrik dan yang lainnya," ujar Faiz.

Faiz menekankan, Odesa tak memaksa petani untuk hanya bertanam kelor semata. Menurutnya, diversitas gizi pangan merupakan hal yang sangat dibutuhkan tubuh, terutama bagi ibu hamil, ibu menyusui dan anak-anak dalam masa pertumbuhan.

"Jadi untuk kelornya tidak perlu menanam 100 atau 1000 pohon. Tapi beberapa saja, minimal dengan adanya kelor lahan dia lebih terlindungi dari erosi dan cadangan air untuk lahan terjaga. Kelor itu mudah kok perawatannya. Istilahnya kita manfaatkan lahan yang tak termanfaatkan sebelumnya," katanya.

Selain kelor, saat ini Odesa juga mengajak warga dan petani untuk mengonsumsi hanjeli (Coix lacyma-Jobi L) sebagai cemilan bagi anak-anak. Menurutnya, hanjeli juga baik sebagai sumber karborhidrat lainnya selain nasi beras.

"Dan untuk hanjeli itu bisa dijadikan bubur untuk sarapan anak, daripada misal bubur kacang hijau yang kacangnya harus impor. Hanjeli itu dikasih gula aren bisa jadi cemilan yang mengenyangkan, enak dan bergizi. Anak-anak suka dan bisa mengurangi jajan sembarangan," tutur Faiz.

Peran Nutrisi dalam Tantangan Kesehatan Lintas Generasi

Dokter Spesialis Gizi Klinik dari Indonesian Nutritition Association Diana Sunardi mengatakan, masalah gizi merupakan tantangan besar yang harus dihadapi bersama. "Indonesia menghadapi triple burden, pertama adalah stunting, malnutrisi atau kurang gizi, dan masalah nutrisi yang berlebihan yaitu obesitas," ujar Diana dalam webinar bertajuk 'Peran Nutrisi dalam Tantangan Kesehatan Lintas Generasi' yang ditayangkan di saluran YouTube akun Nutrisi Bangsa pada 1 Februari 2021.

Secara khusus, Diana menyoroti stunting. Menurutnya siklus stunting berawal dari status gizi yang tidak baik pada remaja putri. Prevalensi stunting di Indonesia pada tahun 2014 berada pada angka 37 persen dan berhasil ditekan hingga mencapai angka 27,6 persen pada tahun 2019. Namun angka tersebut diperkirakan mengalami sedikit kenaikan di tahun 2020 sebagai dampak dari pandemi COVID-19 yang melanda.

"Siklus stunting di Indonesia berawal dari status gizi yang tidak baik pada remaja putri, status kehamilan yang kurang baik, anemia kurang zat besi akan melahirkan bayi-bayi yang kurang berat badan, yang kalau nutrisi balita kurang baik akan mengalami resiko pendek atau stunting," ujar Diana.

Menurutnya nutrisi yang seimbang sangat penting untuk tumbuh kembang anak. Anemia pada anak dan remaja putri biasanya disebabkan oleh pola makan yang tak bervariasi atau picky eater, hal itu akan menyebabkan penyerapan zat besi yang rendah.

"Selain protein, kalsium, karbohidrat dan mineral, jangan lupar fakto yang penting adalah zat besi. Tidak hanya untuk sel-sel darah merah kepada anak balita, tapi untuk pertumbuhannya," kata Diana.

Menurutnya perlu ada upaya berkesinambungan dari semua pihak untuk menyelesaikan problematika tersebut. "Pemerintah dan semua pihak harus menyiapkan suatu program berkelanjutan untuk menyelesaikan masalah defisiensi mikronutrien atau vitamin dan mineral. Dan mineral adalah zat besi, anemia disebabkan karena kurang zat besi," katanya.

"Salah satunya dengan gerakan 1.000 Hari Pertama Kehidupan, diharapkan ke depannya akan membekali generasi yang tangguh, kuat dan sehat sehingga produktivitas dan kinerjanya baik, dan berperan penting untuk kehidupan bangsa," kata Diana.

Salah satu komponen swasta yang ikut andil dalam penanganan masalah nutrisi di Indonesia adalah Danone Indonesia. Corporate Communication Director Danone Indonesia, Arif Mujahidin mengatakan masalah gizi tidak melulu berkaitan dengan finansial, tetapi lebih kepada aspek pengetahuan.

"Gizi tidak terlihat tapi penting untuk menentukan bagaimana kualitas generasi ke depan. Fokus bersama dengan pemangku kepentingan lain membantu pemenuhan dan perbaikan gizi masyarakat melalui edukasi dan inovasi produk," ujar Arif dalam webinar yang sama.

Danone pun memiliki sejumlah program yang ditujukan untuk mengatasi masalah nutrisi di antaranya Isi Piringku yang mempromosikan konsumsi gizi seimbang dan gaya hidup sehat bagi anak usia 4-6 tahun. AMIR (Ayo Minum Air) untuk meningkatkan kebiasaan minum 7-8 gelar air per hari, Warung Anak Sehat untuk edukasi pedagang di kantin dan Aksi Cegah Stunting.

"Tak hanya bagi anak, tapi juga remaja dan orang dewasa melalui Generasi Sehat Indonesia (GESID), Taman Pintar dan Duta 1.000 Pelangi," tutur Arif.

Pemerintah telah menargetkan percepatan penurunan prevalensi stunting atau kekerdilan hingga mencapai 14 persen pada tahun 2024. Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) meyakini, meskipun tidak mudah hal tersebut dapat dicapai jika pelaksanaan di lapangan dapat dikelola dengan baik.

"Target kita (tahun) 2024 itu (prevalensi stunting) 14 persen. Bukan angka yang mudah, tetapi saya meyakini kalau lapangannya dikelola dengan manajemen yang baik, angka ini bukan angka yang sulit," ujar Presiden saat membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kemitraan Program Bangga Kencana, Kamis (28/01/2021), di Istana Negara, Jakarta seperti dikutip detikcom dari laman Setkab RI.


(yum/mud)