Kisah Milenial Bandung Lawan Stigma Petani Hidup Susah

Whisnu Pradana - detikNews
Jumat, 26 Mar 2021 15:45 WIB
Petani Milenial Lembang Bandung
Jajat, petani milenial. (Foto: Whisnu Pradana/detikcom)
Bandung Barat -

Darah agraria mengalir di dalam tubuh Jajat (36), warga Kampung Pasir Angling, Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Ia menggeluti dunia pertanian sejak beberapa tahun silam.

Saat Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menggulirkan program Petani Milenial yang mendapat respons cukup baik dari khalayak, justru itu bukan sesuatu yang baru dan aneh bagi Jajat. Di lahan seluas hampir satu hektare di Lembang, Jajat menanam sebanyak tujuh jenis sayuran. Sebut saja koriander dan lettuce, yang kini sudah tumbuh dengan subur dengan kualitas ekspor.

"Awal program Petani Milenial punya pemerintah itu digulirkan, kebetulan saya sudah berjalan (tani) sebelumnya. Saya sudah jalan dari 2017 dan sampai sekarang terus berkembang," kata Jajat saat ditemui detikcom di kebun miliknya, Jumat (26/3/2021).

Jajat punya penilaian lain soal program Petani Milenial yang digencarkan Pemprov Jabar. Pegawai PLN itu menegaskan saat ini program tersebut belum begitu terasa manfaatnya terutama bagi petani muda sepertinya.

"Programnya mungkin masih baru jadi belum benar-benar terasa manfaatnya untuk saya pribadi. Arahnya masih bingung buat petani, mau seperti apa. Memang saya juga belum banyak mempelajari programnya seperti apa," ucap Jajat.

Di satu sisi Jajat menyebut ada sedikit secercah dampak positif dari program tersebut. Misalnya penggunaan teknologi atau smart farming untuk efisiensi kinerja petani yang bakal bermuara pada peningkatan kualitas dan kuantitas produksi.

"Misalnya saya sudah pakai sensor siram tanaman otomatis, lalu hidroponik. Dua teknologi itu mengurangi 50 persen tenaga kerja dan keberhasilan tanaman meningkat sampai 90 persen. Karena kita tahu di pertanian itu banyak kendala terutama garapan di lahan terbuka," ujar Jajat.

Dia tak mau berpangku tangan mengharapkan segala kemudahan dari program Petani Milenial. Jajat tetap berupaya mandiri menghidupi usahanya. Seperti membuat sendiri pupuk untuk tanaman hingga langkah mengedukasi petani muda lain yang tergabung dalam kelompok tani gagasannya.

"Saya produksi pupuk sendiri karena tahu keperluannya untuk apa. Kalau saya tanya petani mereka pakai pupuk apa, belum tentu mereka paham peruntukannya. Makanya itu juga jadi bahan edukasi buat para petani di Suntenjaya," ucapnya.

Tak cuma itu, Jajat bergerak mengubah pola pikir para petani. "Saya sering mendengar keluhan petani yang mengalami kerugian, petani itu terlihat susah. Akhirnya saya membimbing mereka agar berhasil sebagai petani. Membantu kemajuan mereka misalnya dengan memutus rantai penjualan ke bandar dan tengkulak. Kita sekarang kontrak dengan perusahaan penyalur produksi tani untuk pasar lokal dan ekspor," tutur Jajat.

(bbn/bbn)