Ini Langkah yang Disiapkan Bupati Cellica untuk Atasi Banjir Karawang

Yuda Febrian Silitonga - detikNews
Rabu, 10 Mar 2021 17:26 WIB
Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana
Foto: Bupati Karawang Cellica Nuracahdiana (Luthfiana Awaludin).
Karawang -

Pemerintah Kabupaten Karawang terus berupaya mengatasi banjir yang kerap terjadi di sejumlah titik. Mulai dari relokasi warga hingga upaya teknis lainnya.

Bupati Karawang Cellica Nurracahdiana menyatakan pengentasan banjir masih jadi prioritasnya. Dia akan berusaha mencari solusi terbaik agar masalah banjir di Karawang bisa diselesaikan.

"Bicara banjir, tentunya ini menjadi prioritas utama bagi kami, sebagai pemerintah. Tidak dipungkiri, masalah banjir itu hingga kini menjadi polemik yang tidak kunjung terselesaikan. Akan tetapi, kami terus berusaha untuk mencari solusi terbaik bagi masyarakat yang terdampak banjir," katanya saat diwawancarai dalam giat vaksinasi, Rabu (10/3/2021).

Dia mengungkapkan permasalahan banjir di wilayahnya begitu kompleks. Luasnya wilayah hingga banyaknya daerah aliran sungai membuat penanganannya perlu upaya serius.

"Banjir di Karawang itu begitu kompleks, dan setiap daerah teraliri oleh banyak daerah aliran sungai. Dan wilayahnya punya karakteristik berbeda-beda dalam penanganannya," katanya.

Seperti banjir di Dusun Kampek, Desa Karangligar, Telukjame Barat. Berdasarkan kajian banjir di wilayah tersebut disebabkan adanya penurunan tanah akibat pengeboran minyak.

"Kayak Kampek, di Karangligar, dugaan kami wilayah tersebut mengalami penurunan akibat adanya pengeboran minyak. Tapi itu kajian sementara, untuk pastinya, kami saat ini tengah menunggu hasil kajian yang dilakukan oleh pihak peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB)," ucapnya.

Dia juga mengaku telah menyiapkan solusi untuk mengatasi banjir di wilayah tersebut. Salah satunya relokasi warga terdampak banjir ke tempat yang lebih aman.

"Khusus di Kampek, wilayahnya memang menjadi mangkuk air, dan tidak layak dihuni, dan kami belum mengetahui kajian hidrologinya seperti apa. Oleh karenanya, kami tawarkan relokasi, seperti apa yang dibicarakan kepada Gubernur Ahmad Heryawan dulu," tuturnya.

"Masalah relokasi belum menemukan titik temu dengan warga, karena sebagai besar mereka tidak ingin meninggalkan kampung kelahirannya. Kami pun menyadari, relokasi itu perlu proses panjang, bagaimana kompensasi nantinya, seperti apa tempatnya, siapa yang menyiapkan tempatnya, dan berapa banyak anggaran yang keluarkan, tentunya perlu proses panjang, dan harus kedua belah pihak menyetujui. Tidak bisa langsung begitu aja," ucap Cellica menambahkan.

Sementara itu, untuk banjir di Desa Rengasdengklok Utara dan Selatan, Kecamatan Rengasdengklok. Permasalahannya adalah kurang optimalnya tanggul terhadap luapan sungai Citarum, dan infrastruktur drainase yang belum terbangun dengan maksimal.

"Banjir di Rengasdengklok, itu karena kurang optimalnya tanggul dalam menahan luapan sungai Citarum, dan infrastruktur drainase. Nantinya kami juga menyiapkan alat pompa untuk menyedot air banjirnya," ucapnya.

Namun, untuk teknis lebih jelasnya, dirinya mengaku belum memahami secara rinci seperti apa langkah dalam penanganannya.

"Kalau secara teknis saya belum memahami penanganan banjir di Rengasdengklok, yang pasti saya sudah komunikasi dengan berbagai pihak yang megang kebijakan di wilayah sungai Citarum," jelasnya.

Untuk banjir di wilayah pesisir Karawang, seperti Desa Sedari, Kecamatan Cibuaya, beda kasus dengan warga Dusun Kampek, Desa Karangligar. Mayoritas warga ingin direlokasi dari wilayah yang terkena abrasi, dan rob air laut.

"Untuk Desa Sedari, warganya sepakat ingin direlokasi, jadi kami beli tanah 3 hektar, tahun ini 100 pembangunan rumah dari pemkab, dan 200 dari Ahmad Syaikhu anggota DPR RI, nantinya tanahnya milik mereka," katanya.

Cellica menyatakan akan berkolaborasi dengan pihak swasta, untuk mengatasi persoalan banjir luapan dari Kali Cikalapa di Desa Wadas, Kecamatan Telukjambe Barat.

"Pembahasan Penanganan DAS Cikalapa dari Hulu ke Hilir sebagai upaya penanganan persoalan luapan air bila terjadi curah hujan yg tinggi maupun dalam pendalaman kajian-kajian hidrologi dengan beberapa kawasan," jelasnya.

Lanjutnya, pihak-pihak yang selama ini menanamkan investasinya di Karawang, harus bertanggungjawab, bersama-sama mengatasinya, dengan membuat embung atau danau, bendungan, juga kantong-kantong air.

"Kami menekankan untuk pembuatan embung, bendungan, kantong air maupun pembuatan resapan air," ujarnya.

(mso/mso)