Gunung Sinabung Erupsi, Ini Analisis PVMBG

Yudha Maulana - detikNews
Selasa, 02 Mar 2021 13:09 WIB
Gunung Sinabung
Foto: Gunung Sinabung (Istimewa/dok. Badan Geologi).
Bandung - Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara terpantau mengeluarkan rangkaian awan panas guguran pada Selasa (2/3/2021). Guguran awan panas disertai kolom asap setinggi 4.000-5.000 meter dari tubuh aliran awan panas guguran.

Hingga pukul 08.20 WIB, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi mencatat telah terjadi 13 kali kejadian awan panas guguran. Saat ini Gunung Sinabung masih pada level siaga.

"Selama Januari hingga 1 Maret teramati hembusan gas dari kawah puncak berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis, sedang hingga tebal, tinggi sekitar 50 - 1.000 meter dari puncak," kata Kepala PVMBG Andiani dalam keterangan resminya.

Andiani mengatakan, dari aspek kegempaan jenis gempa yang terekam selama Januari hingga Maret 2021 berupa gempa letusan/erupsi, gempa awan panas guguran, gempa guguran, gempa hembusan, tremor non-harmonik, gempa tornillo, gempa low frequency, gempa hybrid/fase banyak, gempa vulkanik dangkal, gempa vulkanik dalam, gempa tektonik, dan getaran banjir.

"Guguran, Hembusan, Hybrid, dan Low Frequency selama periode tersebut berjumlah sangat tinggi. Pola kenaikkan jumlah gempa Low Frequency dan Hybrid teramati signifikan pada minggu pertama Februari 2021, seiring dengan mulai terjadinya awan panas guguran," katanya.

Berdasarkan hasil analisis, rangkaian kejadian awan panas guguran yang terjadi hari ini merupakan karakter erupsi Gunung Sinabung yang telah terjadi beberapa kali sejak tahun 2013.

"Mekanisme kejadian awan panas guguran diakibatkan oleh adanya pembentukan kubah lava di bagian puncak, kemudian diikuti oleh adanya migrasi fluida (batuan padat, cairan, gas) ke permukaan yang mendorong kubah lava. Migrasi fluida ini diindikasikan oleh jumlah gempa-gempa Low Frequency dan Hybrid yang tinggi," ujarnya.

"Pengamatan visual dan kegempaan hingga 2 Maret 2021 pukul 9.00 WIB menunjukkan fluktuasi dalam pola yang masih tinggi, tetapi tidak ada indikasi peningkatan potensi ancaman bahaya," imbuhnya.

Andiani mengatakan, potensi bahaya berupa erupsi eksplosif masih bisa saja terjadi, walau ancamannya hingga saat ini masih berada pada radius rekomendasi level III (siaga). Lahar pun berpotensi terjadi di lembah-lembah sungai yang berhulu di Gunung Sinabung terutama akibat curah hujan yang tinggi.

"Ancaman bahaya sebaran material awan panas guguran, dan guguran batuan meliputi sektor selatan, timur hingga tenggara dalam radius 4 - 5 km, sedangkan sebaran material erupsi berukuran abu bisa terbawa lebih jauh tergantung arah dan kecepatan angin," katanya.

Pihaknya pun merekomendasikan agar pengunjung atau wisatawan tak melakukan aktivitas di desa-desa yang sudah direlokasi, di dalam radius 3 kilometer dari puncak Gunung Sinabung, serta 4 KM untuk sektor timur-utara, dalam jarak 5 Km untuk sektor selatan-timur Gunung Sinabung.

"Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah untuk mengurangi dampak kesehatan dari abu vulkanik. Mengamankan sarana air bersih serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh," katanya.

Saksikan juga 'Waspada Fenomena 'Gunung Api Bangun dari Tidur'':

[Gambas:Video 20detik]



(yum/mso)