Kata Psikiater soal Bocah Meninggal yang Disebut Keluarga Candu Game Online

Yudha Maulana - detikNews
Sabtu, 27 Feb 2021 20:27 WIB
esport di Asian Games
Ilustrasi game online. (Ilustrator: Edi Wahyono)
Bandung -

Meninggalnya RTS (12), bocah asal Desa Salamjaya, Pabuaran, Subang, menyisakan pertanyaan. Pasalnya, keluarga menyebut diagnosa siswa kelas 1 SMP itu mengalami gangguan saraf karena kecanduan game online.

Keluarga menyebut jika RTS sempat mengeluhkan sakit kepala, bahkan tangan dan kakinya sulit digerakkan. Ia menghembuskan nafas terakhirnya pada 23 Februari, setelah mendapatkan perawatan intensif di RS Siloam Purwakarta.

Dokter spesialis kesehatan jiwa atau psikiater konsultan di RS Melinda 2 Bandung Teddy Hidayat mengatakan, sebenarnya ketergantungan anak terhadap game online tidak menimbulkan kematian secara langsung, tapi merupakan ekses dari pola hidup yang tidak sehat.

"Lumpuh karena kondisi anak yang buruk, kurang tidur, gizi tidak bagus, mungkin terkena penyakit lain. Otot tendon kena karena kelelahan, mata juga kena mungkin karena berhubungan dengan syaraf, bisa kita lihat kalau menyebabkan kematian langsung itu tidak, tapi akibat dari situ, itu yang membuat meninggal," ujar Teddy saat dihubungi detikcom, Sabtu (27/2/2021).

Secara umum, ujar Teddy, anak usia 12 tahun rentan terhadap penyalahgunaan internet. Pasalnya, kelompok ini memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar.

"Kedua bagian otak yang berfungsi untuk mengendalikan perilaku emosi masih belum berkembang bagus, kondisi COVID-19 ini juga membuat semua orang menggunakan daring, keluarga kurang pengawasan jadinya terjadi ketergantungan," kata Teddy.

Teddy mengungkap ada ciri-ciri anak yang ketergantungan dengan game online atau gawai, salah satunya adalah menggunakan teknologi tersebut lebih dari waktu yang ditentukan. "Misalnya dia lupa waktu, kalau dia sudah main itu sebagian besar waktunya untuk internet, kemudian kalau dilarang dia pasti marah, kemudian kita lihat anak lagi browsing dia sampai ketiduran, sudah ketergantungan itu," katanya.

"Anak jadi lebih mudah tersinggung, marah dan bosan. Yang kedua, tidurnya terganggu, mudah bangun, merasa sedih, murung, cemas, putus asa, bahkan sampai bunuh diri. Kondisi fisik kurang baik karena makan terganggu, tidak mau berteman dan dengan keluarga konflik," kata Teddy memaparkan.

Teddy mengakui jika masa pandemi ini membuat anak tak bisa lepas dari gawai untuk belajar jarak jauh, namun orang tua bisa melakukan langkah preventif dengan membatasi waktu penggunaan internet atau gadget anak.

"Kemudian orang tua juga bisa memantau penggunaan gadget anak itu untuk apa, jangan digunakan untuk main, kalau bisa blok juga fitur yang tak menunjang belajar. Dibatasi penggunaanya, jadi supaya anak ada kegiatan lain, aktivitas fisik, keluar rumah supaya tidak bosan. Kalau nanti ada gangguan orang tua juga harus siap melakukan konseling atau mendatangi ahli kesehatan jiwa konseling," tutur Teddy.

(yum/bbn)