Pelapor Pemotongan Bansos Pemprov Jabar di Tasik Minta Pendampingan LBH

Deden Rahadian - detikNews
Kamis, 18 Feb 2021 20:34 WIB
Poster
Ilustrasi (Foto: Edi Wahyono)
Tasikmalaya -

Tujuh lembaga pendidikan dan keagamaan kembali mendatangi Kantor LBH Ansor Kamis petang (18/02/21). Mereka kembali meminta bantuan hukum terkait pemotongan Bantuan Sosial Tahun Anggaran 2020 dari Pemprov Jabar.

Mayoritas penerima bantuan merupakan pemilik lembaga Taman Kanak-kanak Al-Quran (TKA) dan Taman Pendidikan Al-Quran (TPA). Mereka mengaku sangat terpukul mentalnya atas kejadian yang dialami mereka. Apalagi, mereka akhirnya harus menjalani pemeriksaan di kepolisian.

"Terus terang pak saya terus kepikiran hingga tidak enak makan dan tidur. Bahkan saat shalat pun kadang terlintas dan membuat tidak khusuk. Pasalnya banyak yang datang ke tempat saya. Pasca rentetan peristiwa terus terjadi kami mulai dari didatangi oknum dari sebuah Ormas, hingga oknum yang mengakukan diri sebagai wartawan," ungkap salah seorang penerima yang enggan dibuka identitasnya.

Ketua LBH Ansor Kabupaten Tasikmalaya, Asep Abdul Rofiq mengaku siap mendampingi para penerima bantuan yang dipotong ini hingga tuntas. Pasalnya dalam kasus ini ia melihat ada aktor besar yang berperan penting menyalurkan dan mengkoordinir bantuan hingga akhirnya dipotong. Namun ia belum bisa menduga-duga siapa aktor tersebut sebab harus melalui pembuktian hukum.

"Kami siap membantu para penerima yang menjadi korban ini hingga kasusnya tuntas," jelas Asep Abdul Rofiq, Ketua LBH Ansor Tasikmalaya.

Kasus pemotongan bantuan ini memunculkan cerita menarik. Meski masih harus dibuktikan secara hukum, pelaku pemotongan bantuan yang bersumber dari Anggaran Pemerintah Provinsi Jawa Barat tahun 2020 tersebut memakai password nama "SUBARKAH".

Diyakini Subarkah ini hanya nama samaran belaka. Penerima Bantuan Sosial Provinsi mengaku didatangi orang yang mengaku namanya Subarkah. Dirinya meminta jatah uang bantuan sebesar 50 persen dari jumlah yang diterima. Ditambah Rp 5 juta sebagai dalih biaya transportasi dirinya.

Namun anehnya, dari keterangan penerima, secara ciri-ciri fisik dan perawakan yang mengaku bernama Subarkah ini selalu berbeda-beda. Kadang ada yang berperawakan kecil, namun ada pula yang bertubuh tinggi. Sehingga diyakini nama Subarkah hanya sebagai password penghilang jejak dari jaringan pelaku pemotongan hibah.

"Jadi para penerima ini mengaku setelah mereka mencairkan bantuan, maka tidak lama ditelepon dan didatangi seseorang yang mengaku bernama Subarkah. Dirinya itu yang melakukan eksekusi pemotongan bantuan," jelas Ketua LBH Ansor Kabupaten Tasikmalaya, Asep Abdul Rofiq, Kamis (18/2/2021).

Nilai bantuan yang dipotong memang tidak tanggung-tanggung. Sebab hasil penghitungan LBH Ansor saja dari 7 lembaga pendidikan dan keagamaan yang meminta perlindungan hukum pada pihaknya mencapai Rp 1,359 Miliar. Sebab satu lembaga penerima saja nilainya rata-rata Rp 300 juta hingga Rp 400 juta. Di Kabupaten Tasikmalaya jumlahnya pun diperkirakan mencapai Ratusan lembaga.

Kebanyakan penerima juga tidak mengajukan secara langsung melainkan atas penawaran salah satu Organisasi keremajaan dan kepemudaan di Tasikmalaya. Bahkan, pengurusan administrasi pengajuan bantuan dilakukan oleh Oknum yang menawarkan pengajuan bantuan ini.

"Mereka ini ditawari asalnya untuk dapat bantuan oleh salah satu organisasi keremajaan dan kepemudaan. Jadi tidak mengajukan inisiatif lembaganya."Pungkas Asep.

(mud/mud)