Tekan Penumpukan di TPA-TPS, Pemprov Jabar Genjot Pemilahan Sampah

Dony Indra Ramadhan - detikNews
Kamis, 18 Feb 2021 14:46 WIB
Pemprov Jabar menargetkan pemilahan sampah 90 persen tahun 2028
Pemprov Jabar menargetkan pemilahan sampah 90 persen tahun 2028 (Foto: Istimewa)
Bandung - Pemerintah Provinsi Jawa Barat tengah mencanangkan target pilah sampah di Jabar mencapai 90 persen di tahun 2028. Hal ini dilakukan agar tak penumpukan baik di TPS maupun TPA.

"Timbunan sampah yang tertangani saat ini hanya 30,31 persen, sisanya tidak tertangani," ujar Kasi Persampahan Dinas Perumahan dan Permukiman Jawa Barat Dadang dalam keterangannya, Kamis (18/2/2021).

Menurut Dadang, banyaknya timbunan sampah tersebut dikarenakan mayoritas masyarakat tak melakukan pemilahan sampah saat masih menjadi sampah rumah tangga. Sehingga, minimnya pemilahan ini berdampak pada penumpukan sampah di TPS maupun TPA.

Menurut Dadang, pihaknya saat ini terus mensosialisasikan perihal manfaat yang bisa didapat masyarakat dari sampah. Menurut dia, masing-masing jenis sampah memiliki beragam manfaat yang bisa digunakan masyarakat.

Contohnya seperti sampah organik, kata dia sampah jenis ini bisa dijadikan kompos. Sedangkan non organik semacam kaca, plastik atau kertas bisa dijual kembali.

Dadang juga menuturkan bila Pemprov Jabar memiliki target yang mana pada tahun 2028 sampah yang dipilah mampu mencapai 90,20 persen.

"Kami sekarang dituntut menyelesaikan persoalan ini makanya kita gandeng berbagai komunitas termasuk dari Greeny, agar secara nyata bisa ikut serta menyelesaikan masalah," kata dia.

Guna mewujudkan target tersebut, kata Dadang, pihaknya sudah menyiapkan tiga program. Pertama, kaya dia, program kawasan tuntas sampah yakni sampah dari tempat tersebut habis dan tidak dibuang ke TPS.

"Artinya mulai dari sampah organik dan non-organik bisa diolah secara mandiri," kata dia.

Kedua, kata Dadang, pihaknya menyiapkan bank sampah. Dalam program ini, Pemprov Jabar menggandeng pihak lain guna menyediakan pengumpulan sampah secara konvensional untuk didaur ulang.

Ketiga, sambung dia, bekerja sama dengan pihak lain seperti komunitas yang mengambil sampah non organik untuk didaur ulang.

"Harapannya program seperti ini bisa dikembangkan di daerah lain juga dengan fokus pemilahan. Kontribusi seperti ini sangat baik pada lingkungan," kata Dadang.

Untuk program ketiga ini, salah satu komunitas Greeny sudah siap membantu Pemprov Jabar. Komunitas ini menyiapkan sistem kerja ke arah digitalisasi guna memudahkan persoalan sampah.

"Melalui aplikasi Greeny, masyarakat bisa menyimpan sampah yang akan didaur ulang untuk kemudian diambil. Sampah yang diambil kemudian akan ditukar dengan sejumlah uang. Masing-masing sampah baik kertas atau plastik dihitung per kilogram dengan nominal tertentu," ujar Boy Tjakra yang juga ketua ikatan pemulung Indonesia (IPI) ini.

Dia menuturkan aplikasi ini sudah mulai berjalan. Meski baru berumur satu bulan, peminat di Kota Bandung diklaim sudah tinggi.

"Di Bandung niat warga untuk memilah sampah memang masih kurang. Makanya kita coba bantu edukasi dan permudah. Setelah di Kelurahan Sadang Serang kita akan coba ke Sukaluyu, Sukahaji dan beberapa daerah lain di Bandung," tuturnya. (dir/mud)