Warga Tolak Rencana Kota Serang Jadi Penampungan Sampah dari Tangsel

ADVERTISEMENT

Warga Tolak Rencana Kota Serang Jadi Penampungan Sampah dari Tangsel

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Rabu, 17 Feb 2021 16:46 WIB
Audiensi Warga dengan Pemkot Serang
Penolakan sampah dari Tangsel ini disampaikan warga saat audiensi bersama Pemkot Serang. (Foto: Bahtiar Rifa'i/detikcom)
Serang -

Warga Kampung Pasir Gadung sebagai kampung paling terdekat dengan tempat pembuangan akhir (TPA) Cilowong menolak rencana Pemkot Serang menampung sampah dari Tangerang Selatan (Tangsel). Penolakan disampaikan dalam audiensi warga bersama pemkot.

Warga menilai TPA saat ini rawan longsor dan bisa saja membahayakan warga. Warga juga takut dan sejauh ini TPA dinilai dikelola dengan tidak baik.

"Kami mewakili warga menolak, takut, masyarakat ketakutan. Iya tahun sekarang nggak apa-apa, tahun akan datang mikirin masa depan anak-anak kita," kata Saadi, warga yang tinggal 200 meter dari Cilowong, saat audiensi dengan Pemkot Serang di Kelapa Dua, Rabu (17/2/2021).

Warga menanyakan ke pemkot kenapa cara pengelolaan di Cilowong tidak baik sampai longsor. Selain itu, mereka menanyakan kemana selama ini kompensasi bagi warga yang tinggal dekat TPA.

Warga lain, Aliyudin mengatakan, selama ini lindi sampah TPA tidak disaring sehingga merusak sawah dan sungai warga. Dari delapan kolam lindi, hanya satu kolam yang memiliki penyaringan. Sisanya merusak sawah bahkan padi yang tumbuh juga hitam dan tidak bisa dikonsumsi.

"Sekarang sungai adanya nyamuk, ikan nggak ada, air item, pada dasarnya warga mendukung program pemerintah, tapi soal sampah tengok pemukiman, bagus di sana ada kolam lindi, di sana ada penyaring bau satu padahal kolam ada delapan," ujar Aliyudin.

Warga bisa saja menerima rencana pemkot. Tapi, ada beberapa syarat kompensasi mulai dari apakah pemkot siap menyediakan dokter setiap hari untuk warga di pustu, disediakan ambulans, penambahan alat pengelolaan sampah, membangun bronjong agar tidak longsor, hingga disediakan beasiswa warga dari SD sampai S3. Jika satu saja permintaan tidak dipenuhi, warga akan melakukan penolakan.

"Nolak kenapa? Masyarakat kuleu koh boten disejahterakan dari 95 sampe niki (masyarakat saya belum disejahterakan dari 95 sampai sekarang). Program pemerintah bagus, kuleu mesen pemerintah napik omonge doang (pemerintah jangan hanya bicaranya saja)," tutur warga lainnya.

(bri/bbn)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT