Idap Penyakit Langka, Bocah Sukabumi Dilarang Terpapar Sinar Matahari

Syahdan Alamsyah - detikNews
Rabu, 17 Feb 2021 09:45 WIB
Bocah di Sukabumi mengidap penyakit langka hingga dilarang terpapar sinar matahari
Bocah di Sukabumi mengidap penyakit langka hingga dilarang terpapar sinar matahari (Foto: Syahdan Alamsyah)
Sukabumi -

Septian, bocah laki-laki berusia 6 tahun di Jampang Kulon, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat mengidap penyakit langka. Selain kulitnya bersisik, dia juga dilarang terkena sinar matahari oleh dokter yang menanganinya.

Basuni, sang ayah menyebut kondisi putranya itu baru diketahui ketika usia putranya 6 bulan. Ada bintik putih di dekat hidung putra satu-satunya itu, lama kelamaan bintik putih itu bertambah banyak hingga nyaris di sekujur tubuhnya.

"Saat usia anak saya 5 bulan, ada bintik putih di hidung. Bentuknya seperti jerawat, semakin lama bertambah banyak sampai rentang waktu 6 bulan bintik putih itu berubah menjadi hitam dan mulai kerasa gatal-gatal ketika usia anak saya 3 tahun," kata Basuni, melalui sambungan telepon dengan detikcom, Rabu (17/2/2021).

Basuni sempat membawa putranya berobat ke Puskesmas dan rumah sakit, ia juga sempat mendatangi pengobatan kampung secara spiritual. Namun kondisi putranya tidak kunjung membaik.

Terakhir, ketika membawa putranya ke RSUD Sekarwangi Cibadak pihak rumah sakit menyarankan agar Septian dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Basuni menyerah, ketiadaan biaya terpaksa membuatnya mundur perlahan.

"Saya enggak sanggup, saya sudah lama menganggur bekerja serabutan. Sampai kemudian saya bertemu relawan sosial dari Sahabat Kristiawan Peduli, akhirnya seluruh biaya pengobatan Septian ditanggung alhamdulillah. Sekarang sudah dua hari saya di Bandung rutin memeriksakan kondisi anak saya," ungkap Basuni.

"Terhitung sudah lima kali saya memeriksakan kondisi Septian, hari ini ada jadwal untuk menjalani radiologi dan bertemu spesialis kulit. Saya lupa apa nama penyakitnya tapi katanya jenis kanker, penyakit langka. Anak saya juga tidak boleh terkena sinar matahari langsung," lirih Basuni.

Dihubungi terpisah, Kristiawan Saputra founder SKP membenarkan biaya Septian dan biaya selama di rumah singgah ditanggung olehnya. Biaya tersebut berasal dari para dermawan yang menitipkan rezekinya untuk pengobatan Septian.

"Kami mendapat informasi Septiana ini sekitar bulan November lalu setelah salah seorang warganet follower kami menginformasikan ada anak kondisinya seperti ini dan terkendala biaya pengobatan," kata Kristiawan.

Kristiawan juga membenarkan awal mula diketahui penyakit yang dialami oleh bocah tersebut bermula dari adanya bintik putih di hidungnya. Bintik tersebut semakin hari semakin banyak bahkan hingga hari ini. Karena keterbatasan biaya, orang tuanya kemudian membawa Septiana berobat ke Puskesmas.

"Penyakit itu diketahui saat usianya 5 bulan, semakin hari titik putih di hidung itu tersebar. Saat ini di sekujur tubuhnya bahkan hingga matanya, kami terenyuh dengan kondisi orang tuanya sampai kemudian kami bantu pengobatan sampai rumah singgahnya. Saat ini Septiana dalam pengawasan medis RS Hasan Sadikin, Bandung," lanjut Kristiawan.

Hasil pemeriksaan sementara ada kelainan di kulit Septiana, selain itu ditemukan kanker di kepala bocah tersebut. Sehingga hal itu berefek kepada kulit dan juga matanya, selain di Hasan Sadikin, ia juga berobat di Cicendo.

"Kondisi orang tuanya tidak mampu, ayahnya pekerja serabutan kekurangan biaya. Alhamdulillah saat ini kondisi penanganan medisnya sudah kami fokuskan, baik pengobatan matanya maupun kulitnya. Kulitnya bentuknya seperti sisik dan bercak, hitam kemerah-merahan dan di mata kekuning-kuningan. Dokter menyatakan bahwa dia tidak boleh kena sinar matahari, kalau keluar dia harus pakai baju menutupi seluruh tubuhnya dan harus memakai kacamata khusus," beber Kristiawan.

(sya/mud)