Dampak COVID-19, Penduduk Miskin Perkotaan Makin Bertambah di Banten

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Senin, 15 Feb 2021 14:47 WIB
Poster
Ilustrasi dampak COVID-19. (Ilustrator: Edi Wahyono)
Serang -

Hantaman pandemi COVID-19 berdampak pada penambahan jumlah penduduk miskin di Banten. Pada September 2020, BPS Banten mencatat angkanya naik 81,65 ribu menjadi total 857,64 ribu orang atau setara 6,63 persen total populasi. Penambahan jumlah penduduk miskin ini terjadi paling banyak di perkotaan.

Jumlah tersebut juga artinya naik 0,71 persen dibandingkan pada Maret 2020. Di periode itu penduduk miskin di Banten ada di angka 777,99 ribu orang.

"Peningkatan kemiskinan ini patut diduga salah satu dampak pandemi COVID-19," kata Kepala BPS Banten Adhi Wiriana dalam konferensi pers yang disampaikan daring di Serang, Senin (15/2/2021).

Adhi mengungkapkan penambahan jumlah paling banyak warga miskin di perkotaan karena wilayah Banten didominasi oleh sektor industri khususnya di Tangerang Raya, Cilegon dan Serang. Di perkotaan, jumlah penambahannya mencapai 67,31 ribu orang. Ini jauh berbeda dibandingkan penambahan warga miskin di desa di angka 14 ribu lebih.

"Wilayah perkotaan lebih terdampak pandemi dibanding desa, dan ini dinyatakan persentase penduduk miskin kota lebih banyak di desa karena di desa lebih mengandalkan pertanian," ujarnya.

Angka total 857 ribu lebih penduduk miskin ini juga adalah kemunduran dalam upaya pengentasan kemiskinan. Angka ini katanya mundur belasan tahun ke belakang di mana pada 2007 jumlah penduduk miskin waktu itu juga mencapai 800 ribu lebih.

"Ini menandakan dampak COVID signifikan karena meningkat kembali seperti tahun 2007 lalu," ucap Adhi.

Menurut dia, justru komoditi yang paling banyak berpengaruh menyumbang kemiskinan di kota malah rokok kretek filter. Sedangkan di desa yang paling banyak berpengaruh adalah beras dan kedua rokok.

"Selama ini pada umumnya baik di kota dan pedesaan komoditi (penyumbang) biasanya beras. Di September 2020 ini kebanyakan orang di bawah kemiskinan membelanjakan uang untuk rokok kretek," tutur Adhi.

(bri/bbn)