'Desa Mati' Majalengka Sempat Dihuni 253 KK hingga Akhirnya Direlokasi

Bima Bagaskara - detikNews
Selasa, 02 Feb 2021 10:01 WIB
Suasana hening begitu terasa ketika memasuki sebuah dusun bernama Tarikolot di Majalengka. Ratusan rumah disana terbengkalai karena ditinggal penghuninya.
Foto: Rumah kosong di desa mati Majalengka (Bima Bagaskara/detikcom).
Majalengka - Dusun Tarikolot di Desa Sidamukti, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka bagaikan 'Desa Mati'. Itu karena ratusan rumah disana terbengkalai tak berpenghuni.

Bencana alam pergerakan tanah yang terus terjadi dan mengancam keselamatan warga di sana, membuat 180 rumah di Dusun Tarikolot harus dikosongkan. Sementara 253 kepala keluarga juga yang bermukim di dusun itu terpaksa harus direlokasi.

Peristiwa pergerakan tanah itu terjadi pada tahun 2006 lalu yang mengakibatkan banyak rumah warga rusak. Hal itu diperparah dari letak geografis Dusun Tarikolot yang berada di zona merah rawan bencana.

"Peristiwa pergerakan tanah terjadi tahun 2006. Dan berkat upaya Pemdes Sidamukti dan Pemkab Majalengka akhirnya tahun 2009 kami mendapat program relokasi," kata Kepala Desa Sidamukti Karwan saat berbincang dengan detikcom Selasa (2/2/2021).

Setelah tempat relokasi yang berada di Dusun Buahlega selesai dibangun, 253 kepala keluarga penghuni Dusun Tarikolot mulai pindah meninggalkan rumahnya.

Menurut Karwan, ketika warga mulai pindah bangunan rumah lama yang ada di Dusun Tarikolot tetap dibiarkan berdiri. Hal itulah yang membuat dusun tersebut saat ini bagaikan 'desa mati'.

"Seluruh penghuni di sini 180 rumah dan 253 KK akhirnya dipindahkan ke Dusun Buahlega yang dibangun di tanah pemerintah. Sementara warga tidak membongkar bangunan disini dan akhirnya seperti ini kondisinya," ungkapnya.

Saat ini kata Karwan, meski Dusun Tarikolot berada di zona merah rawan bencana, namun masih ada warga yang tetap bertahan. Menurutnya ada delapan KK yang masih bertahan.

Masih kata Karwan, sebagian warga yang telah pindah juga masih ada yang datang ke Dusun Tarikolot, Majalengka untuk bertani dan memberi makan ternak.

"Sekarang dimanfaatkan untuk kandang ternak dan lain sebagainya. Akhirnya aktivitas masih ada disini. Jadi ketika siang banyak yang datang untuk ngasih makan hewan disini. Sekarang yang bertahan disini ada 8 KK sekitar 13 jiwa," tutup Karwan. (mso/mso)