85 Ton Ikan Mati di Waduk Jatiluhur Juga Dipengaruhi Buruknya Kualitas Air

Dian Firmansyah - detikNews
Senin, 01 Feb 2021 15:11 WIB
85 ton ikan mati juga dipengaruhi buruknya kualitas air waduk Jatiluhur
85 ton ikan mati juga dipengaruhi buruknya kualitas air waduk Jatiluhur (Foto: Dian Firmansyah)
Purwakarta -

Cuaca buruk yang melanda kabupaten Purwakarta beberapa hari terakhir, menyebabkan 85 ton ikan di kolam jaring apung di waduk Jatiluhur mati secara massal. Kondisi ini terjadi karena hujan yang terus menerus mengguyur wilayah tersebut yang mengakibatkan oksigen di dalam air berkurang.

"Hujan yang terus-menerus dan cuaca mendung membuat air di atas permukaan menjadi dingin. Nah massa air dingin itu lebih berat di banding air hangat di bawah. Jadi ada perputaran air dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas, kita sebut umbalan," ujar Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Purwakarta, Budhi Supriyadi ditemui oleh detikcom di kantornya, Senin (01/02/2021).

Budhi menjelaskan lebih mendalam, kondisi ini membuat ikan mabuk dan mati. kondisi ini diperparah dengan air yang berada di bawah dan berputar ke permukaan, kondisinya sudah tidak baik atau jelek. Sehingga selain adanya perputaran air, juga ada faktor dari ikan mengkonsumsi air yang jelek tersebut.

"Air yang di bawah itu kondisinya jelek, faktornya salah satunya karena banyaknya keramba dan adanya endapan pakan itu sendiri," katanya.

Peristiwa ikan mati massal ini bukan tahun ini saja terjadi, hampir di setiap musim hujan ikan di dalam kolam mati. Pihak dinas pun sudah memberikan imbauan kepada para petani ikan, jika di masa puncak musim penghujan agar mengurangi jumlah tebar ikan agar mengurangi kerugian.

"Awalnya di kecamatan Tegal waru, karena di wilayah saya lebih dangkal, kemudian terjadi di kecamatan Jatiluhur. Jumlahnya menurut data di lapangan mencapai 85 Ton Ikan yang mati.

Dilihat detikcom di sekitar danau Jatiluhur, para petani memilih panen lebih awal, mereka khawatir ikan sama sekali tidak bisa di manfaatkan. Ia jual ikan dengan kondisi ini jauh di bawah harga normal.

"Ini mau di bawa ke Pamanukan. Bukan mabuk tapi kekurangan oksigen ya masih bisa di selamatkan. Ini mau di bawa ke Pamanukan biasanya suka dibikin asin atau pindang. Harganya tergantung kualitas kalo masih bagus bisa Rp. 7 Ribu kalau harga normal Rp. 20 ribuan bisa," ungkap Syamsudin

(mud/mud)