Terkendala PJJ, Ribuan Siswa SD-SMP di Cimahi Terancam Tak Naik Kelas

Whisnu Pradana - detikNews
Jumat, 29 Jan 2021 15:28 WIB
Asian  student girl video conference e-learning with teacher on computer in living room at home. E-learning ,online ,education and internet social distancing protect from COVID-19 virus.
Foto: Ilustrasi sekolah online (iStock).
Cimahi -

Sejumlah kendala dialami para siswa dalam mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Di Kota Cimahi bahkan ada ribuan siswa SD dan SMP terancam tidak naik kelas.

Berdasarkan laporan dari pihak sekolah beberapa permasalahan yang terjadi selama pelaksanaan PJJ di antaranya tingkat kehadiran siswa yang rendah. Akibatnya, siswa tidak mendapatkan nilai.

"Bahkan ada siswa yang sama sekali tidak isi absen. Akhirnya guru tidak memberikan nilai pada anak tersebut," kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Cimahi Harjono saat dihubungi, Jumat (29/1/2021).

Tak cuma soal kehadiran, siswa juga kerap tidak mengumpulkan tugas yang sudah diberikan oleh guru mata pelajaran. Akibat hal itu pula, lagi-lagi siswa tidak mendapatkan nilai.

"Soal tugas juga jadi masalah. Kebanyakan siswa itu malas mengerjakan tugas jadi guru sulit untuk memberikan nilai," terangnya.

Harjono menduga ada berbagai faktor sehingga ribuan siswa tersebut mengalami berbagai permasalahan. Dari mulai hambatan dalam mengakses teknologi lalu siswa tidak memiliki pendamping ketika melaksanakan PJJ.

"Kebanyakan bermasalah dengan aksesibilitas teknologi seperti ponsel atau jaringan. Tapi ada juga kendala pendampingan dari orang tua siswa, karena kemungkinan orang tuanya sibuk kerja sehingga tak punya waktu mendampingi anak," jelasnya.

Dinas Pendidikan Kota Cimahi mencatat setidaknya ada 722 siswa SD yang bermasalah menjalani PJJ. Namun sekitar 202 sudah selesai karena siswanya sudah menyetorkan tugas yang diberikan guru.

"Hari ini tinggal 520-an masih bermasalah. Guru-guru sudah mendatangi rumah yang yang belum selesai soal tugas dan absensinya. Tapi ada yang orangtuanya yang tidak ada, sudah pindah, dan sebagainya," ujarnya.

Sementara untuk siswa SMP tercatat ada 2.300 lebih yang mengalami hal serupa. Dari jumlah tersebut sebanyak 800 siswa sudah menyelesaikan kewajibannya.

"Sekarang ini tinggal 1.500-an siswa yang belum selesai. Dan kendalanya sama, ada yang orang tuanya sedang pergi, sudah pindah, atau memang sulit dihubungi sejak awal," tegasnya.

Jika tidak selesai hingga akhir semester II tahun ajaran 2020/2021, Harjono khawatir ribuan siswa SD dan SMP yang masih bermasalah nantinya tidak akan naik kelas karena mereka belum melengkapi nilai selama PJJ.

"Kalau masih seperti ini kita takutkan nanti saat rapat kenaikan kelas siswa itu tidak naik. Kami akan konsultasi ke kementerian terkait masalah ini," ujarnya.

(mso/mso)