Analisis Pakar IPB soal Penyebab Banjir Bandang di Puncak

M. Sholihin - detikNews
Jumat, 22 Jan 2021 18:01 WIB
Banjir bandang melanda kawasan Kabupaten Bogor. Rumah-rumah rusak dan mengakibatkan sejumlah warga mengungsi ke tempat yang lebih aman. Berikut potretnya.
Dampak kerusakan akibat banjir bandang di Puncak Bogor. (Foto: M. Sholihin/detikcom)
Bogor -

Banjir bandang di Puncak Bogor mendapat tanggapan dari pakar sekaligus dosen Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) Institut Pertanian Bogor (IPB) Omo Rusdiana.

Ia menyebut banjir bandang di kawasan agro wisata Gunung Mas Puncak Bogor terjadi akibat beberapa faktor. Di antaranya adalah deforestasi, lahan kritis atau tidak produktif, kondisi sungai serta penyimpangan penggunaan tata ruang.

"Faktor penyebab banjir tersebut antara lain intensitas hujan yang tinggi, kualitas tutupan lahan akibat deforestasi, lahan kritis atau tidak produktif, kondisi sungai serta penyimpangan penggunaan tata ruang," kata Omo, Jumat (22/1/2021).

Menurut dia, ada hubungan erat antara banjir bandang di Puncak Bogor dengan tata ruang. Apabila terjadi pelanggaran terhadap tata ruang, maka risiko yang akan diterima akan semakin besar.

"Banjir bandang yang terjadi di daerah Puncak Bogor sebagai akibat dari wilayah resapan air yang telah banyak dijadikan lahan terbangun," kata Omo.

Lahan terbangun ini, lanjut Omo, tidak mendukung fungsi resapan sehingga berdampak terhadap tingginya aliran permukaan dan risiko banjir. "Tata ruang di kawasan Puncak Bogor sudah ada peraturannya yaitu Peraturan Presiden tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, dan Cianjur. Pertanyaannya apakah peraturan ini sudah dilaksanakan?" ucap Omo.

Siapa yang tanggung jawab soal banjir bandang di Puncak Bogor ini, menurutnya yang bertanggung jawab secara prinsip terhadap kejadian bencana adalah yang melanggar aturan serta tidak terlepas dari aspek pembuat aturan dan penegak hukum. Omo menyarankan agar pemanfaatan lahan sesuai dengan fungsinya secara produktif dengan tetap memperhatikan perlindungan lingkungan dan berkeadilan. Melalui pengelolaan lahan pertanian dengan menerapkan praktik pertanian yang baik (good agriculture practices/GAP).

"Perlu sosialisasi daerah rawan longsor dan banjir kepada masyarakat, lokasi serta konsekuensinya," ucap Omo.

(bbn/bbn)