Ini Analisis PVMBG soal Penyebab Banjir Bandang di Gunung Mas Bogor

Yudha Maulana - detikNews
Rabu, 20 Jan 2021 16:14 WIB
Banjir bandang yang sempat menerjang Kampung Gunung Mas mengakibatkan lokasi wisata agro Gunung Mas Puncak ditutup sementara hingga waktu yang tidak ditentukan.
Foto: Banjir Bandang Gunung Mas, Puncak Bogor (M Sholihin/detikcom).
Bandung -

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menganalisis penyebab bencana banjir bandang di Perkebunan Teh PTPN VIII, tepatnya di Kampung Rawa Dulang, Desa Tugu Selatan, Cisarua, Kabupaten Bogor, Selasa (19/1/2021).

Kepala PVMBG Kasbani mengatakan kemiringan lereng sangat curam dengan morfologi daerah aliran sungai (DAS) berupa cekungan tapal kuda dengan bagian ujung menyempit, sehingga merupakan daerah akumulasi air dan mudah terbendung material longsoran.

Seperti diketahui banjir bandang yang terjadi kawasan Agro Wisata Gunung Mas itu merupakan aliran bahan rombakan atau banjir bandang dari Kali Cisampay.

Dari laman Badan Geologi, secara umum lokasi bencana pada bagian hulu merupakan morfologi cekungan berbentuk tapak kuda dengan kelerengan agak curam hingga sangat curam, dengan kemiringan lebih dari 45 derajat, sementara pada lereng bagian bawah kemiringan lereng berkisar 10°-20°. Lokasi berada pada ketinggian antara 1.000 sampai dengan 1.100 meter di atas permukaan laut.

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Bogor, Jawa (A.C. Effendi, dkk., 1998), daerah bencana tersusun oleh batuan Gunungapi Pangrango yang merupakan endapan lebih tua, lahar dan lava, basalt andesit (Qvpo).

"Longsoran pada bagian atas terjadi pada tanah pelapukan dan kontak dengan lapisan di bawahnya yang merupakan lapisan kedap air (lava) yang berfungsi sebagai bidang gelincir," ujar Kasbani dalam diskusi virtual, Rabu (20/1/2021).

"Longsoran pada bagian hulu yang kemudian terbawa oleh aliran sungai dan volumenya bertambah dengan material batuan dan tanah yang ada di sungai, dan ketika hujan lebat menjadi aliran bahan rombakan yang mempunyai daya rusak yang sangat tinggi," lanjut Kasbani.

Ia mengatakan hujan yang turun dengan intensitas tinggi, menjadi pemicu terjadinya gerakan tanah dan aliran bahan rombakan. "Di daerah puncak ini juga terjadi karena adanya hujan yang sangat lama, dengan intensitas tinggi dan juga kondisi geologinya seperti itu," katanya.

Dalam bencana ini sebanyak 134 kepala keluarga yang terdiri dari 474 jiwa mengungsi dan puluhan rumah rusak. Beberapa akses jalan di wilayah tersebut pun tak dapat dilalui kendaraan.

Kepala Badan Geologi Eko Budi Lelono mengatakan pihaknya telah membuat peta rawan bencana, baik untuk potensi bencana longsor maupun banjir bandang. "Data itu selalu kamu update tiap bulan dan kami sampaikan ke pemerintah daerah setempat, juga diberikan kepada BPBD dan BNPB update peta itu. Seharusnya sudah diketahui daerah mana saja yang punya potensi banjir bandang menengah atau rendah, dan dijadikan pemerintah daerah untuk bisa mengantisipasi hal itu," katanya.

(yum/mso)