Begini Kondisi Daerah Longsor di Sumedang Versi PVMBG

Siti Fatimah - detikNews
Kamis, 14 Jan 2021 22:36 WIB
Pencarian korban tertimbun longsor di Sumedang terus dilakukan
Evakuasi longsor di Sumedang (Foto: Dony Indra Ramadhan)
Sumedang - Bencana longsor yang terjadi di Dusun Bojongkondang, Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang itu telah mengakibatkan banyak korban jiwa dan kerugian kerusakan harta benda. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengungkapkan berbagai macam kondisi daerah bencana berdasarkan kajiannya.

Kepala PVMBG Ir. Kasbani mengatakan, secara morfologi, kondisi daerah bencana merupakan perbukitan bergelombang yang berada di ketinggian antara 735-778 meter di atas permukaan laut (MDPL). "Memiliki sudut kelerengan berkisar antara 35-40 derajat, daerah bencana merupakan daerah perbukitan curam yang membentuk morfologi tapal kuda berbentuk U atau V," kata Kasbani dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Kamis (14/1/2021).

Lebih lanjut, secara geologi daerah di mana lokasi bencana ini memang terlihat sangat berpotensi. Dilihat dari Peta Geologi Lembar Bandung, daerah bencana tersusun oleh hasil gunung api muda tak teruraikan (Qyu) berupa pasir tufaan, lapili, breaksi, lava, dan aglomerat.

"Pengamatan lapangan menunjukkan tubuh morfologi bukit di Desa Cihanjuang didominasi oleh batuan lava dengan tanah pelapukannya berwarna orange-coklat dengan ketebalan rata-rata 1,5-2 meter dan menebal di alur lembah bercampur dengan tanah longsoran lokal maupun urugan," jelasnya.

Kondisi ini diperparah dengan ditemukannya longsoran vulkanik berupa fragmen lava dengan material tanah. Kasbani mengatakan, karakteristik batuan yang turut mengontrol pergeseran tanah merupakan unit satuan dari pelapukan tubuh lava yang bersifat masif dan kedap air.

Kemudian, dari segi tata guna lahan di Desa Cihanjuang terbagi menjadi tiga bagian. Dia mengatakan, pada bagian lereng atas merupakan lahan pemukiman, lereng tengah masih berupa wilayah pemukiman dan kebun campuran, sedangkan lereng bagian bawah yang relatif landai merupakan lahan jalur jalan utama dan pemukiman.

Kasbani juga menjelaskan dari sisi keairan wilayah bencana. Menurutnya dengan kondisi wilayah yang berbentuk tapal kuda, maka sifat tanah pelapukan tebal memiliki tekstur gembur, namun juga wilayah tangkapan air lokal dan alur air. "Drainase air di wilayah pemukiman lereng bagian atas sebagian mengalir ke arah alur air tebing longsor. Informasi BMKG menunjukkan intensitas curah hujan 100mm pada saat kejadian gerakan tanah," katanya.

Dari keseluruhan kondisi daerah, maka dapat disimpulkan Kecamatan Cimanggung termasuk dalam zona potensi gerakan tanah menengah hingga tinggi. "Artinya daerah ini mempunyai potensi untuk terjadi pergerakan tanah," tuturnya.

"Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguanm sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali," sambungnya.

Kasbani kemudian menyarankan agar ada penataan ulang kawasan di alur terdampak longsor. Dia mengatakan, sebaiknya tanah tersebut dikosongkan karena tanah bersifat gembur dan mudah dijenuhi air.

"Dan wilayah pemukiman yang masuk dalam alur gerakan tanah/longsor yang telah terbentuk tersebut agar direlokasi," pungkasnya. (mud/mud)