Soal Fosil Megalodon, Bupati Sukabumi: Kita Jadikan Cagar Alam Geologi

Syahdan Alamsyah - detikNews
Rabu, 13 Jan 2021 14:35 WIB
Bupati Sukabumi Marwan Hamami perlihatkan fosil gigi megalodon.
Foto: Bupati Sukabumi Marwan Hamami perlihatkan fosil gigi megalodon (Istimewa).
Sukabumi -

Bupati Sukabumi Marwan Hamami berharap aktivitas perburuan fosil gigi hiu purba atau Megalodon oleh warga dihentikan. Menurutnya, fosil yang diperkirakan berusia jutaan tahun itu bisa tetap berada di tempatnya guna penelitian lebih lanjut.

Marwan mengaku sudah menyambangi Kampung Cigintung, Desa Gunungsungging, Kecamatan Surade dan melihat bongkahan fosil tersebut. "Rencananya lokasi tersebut kita jadikan cagar alam geologi, guna pelestarian cagar alam geologi," kata Marwan, Rabu (13/1/2021).

Menurut Marwan dalam waktu dekat akan ada penilaian UNESCO Global Geopark. Dia menyebut lokasi tempat temuan fosil akan menjadi salah satu lokasi yang akan dikunjungi untuk penilaian.

"Ada potensi seperti ini bukan dijual fosilnya, namun dimanfaatkan untuk dijual menjadi objek pariwisata untuk wisata geologi dilestarikan dan menjadi lokasi edukasi. Potensi langka seperti ini jangan sampai habis sehingga memutus mata rantai sejarah yang perlu diketahui oleh generasi yang akan datang agar anak cucu kita tau bahwa ada peninggalan sejarah yang usianya jutaan tahun," ucap dia.

Ke depan, Marwan juga berencana untuk melakukan penataan kawasan. Namun ia memberikan syarat bagaimana masyarakat bisa bersama-sama berkomitmen untuk melestarikan peninggalan sejarah tersebut.

Diberitakan sebelumnya, ratusan hingga ribuan fosil gigi hiu purba atau Megalodon ditemukan di dalam tanah oleh warga Kampung Cigintung, Desa Gunungsungging, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi. Fosil yang diduga peninggalan era prasejarah tersebut ditemukan di dekat petak-petak sawah warga kampung tersebut.

Adalah Mamuh (45), seorang pembuat petakan sawah yang pertama kali menemukan fosil purba tersebut awal bulan Maret 2020 lalu. Saat itu ia menemukan benda berbentuk segitiga runcing dengan tepian bergerigi. Warnanya beragam, mulai dari coklat tua hingga hitam legam sebagian ujungnya yang rata keras seperti batu.

(sya/mso)