Diminati Brazil-Amerika, 'Huntu Gelap' Sukabumi Bernilai Ratusan Juta

Syahdan Alamsyah - detikNews
Rabu, 13 Jan 2021 09:41 WIB
Sukabumi -

Perburuan secara masif Gigi Hiu Purba atau dikenal dengan sebutan Huntu Gelap di Desa Gunungsungging, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi dinilai wajar.

Belum adanya regulasi atau penetapan cagar alam geologi di lokasi itu membuat warga secara bebas menambang titik-titik lokasi yang diduga terdapat fosil tersebut. Menurut Kepala Desa Gunungsungging Nanang, peminat fosil berasal dari berbagai negara diantaranya China dan Amerika.

"Dulunya dipasarkan melalui tangkulak dikirim pakai jasa kurir biasa, pembayarannya melalui Paypal. Nah yang punya paypal disini hanya sekitar 3 orang, pembelinya dari beberapa negara namun paling mahal itu dari Amerika, negara lainnya Brazil dan China," kata Nanang, Rabu (13/1/2021).

Nanang mengaku tak tahu kenapa orang luar meminati fosil tersebut, ia menduga fosil itu dijadikan hiasan atau pajangan oleh pembelinya karena bernilai tinggi karena merupakan benda yang berasal dari jutaan tahun silam.

"Harganya luar biasa, tergantung panjangnya. Ada yang hanya Rp 2 juta sampai terakhir informasinya seharga Rp 150 juta karena memiliki panjang 19 sentimeter. Banyak warga kaya mendadak, mulai dari bangun rumah sampai daftar haji," lanjutnya.

Namun harga itu bisa jatuh ketika kondisi fosil tak lagi mulus, nilainya merosot tajam hingga hanya dihargai Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu. Penyebab fosil tak mulus tidak lain karena terkena benturan alat pencongkel saat proses menambang.

Ada beberapa kampung di wilayah Desa Gunungsungging yang memiliki kandungan fosil dan kini menjadi ladang pencaharian baru bagi warga. Posisi fosil yang berada di area sawah dan lahan pribadi membuat pihak desa dan pegiat wisata tidak bisa berbuat banyak.

"Ada sekitar 6 titik yang sudah ditemukan fosil Megalodon, di Kampung Cigintung, Kampung Cilutung, Legokbongkeh, Curug Lubang dan di Salenggang. Kami berharap ada peneliti yang bisa melakukan kajian mendalam terkait temuan-temuan itu, ada solusi agar fosil-fosil itu dijaga karena bukan tidak mungkin lokasi ini suatu saat nanti bisa jadi taman fosil purba," pungkasnya

(sya/mud)