Eks Kacab Bank BUMD Jabar Tersangka Kredit Fiktif Rp 8,7 M

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Senin, 21 Des 2020 19:01 WIB
Kejati Banten.
Foto: Kejaksaan Tinggi Banten (Bahtiar Rifa'i/detikcom).
Serang -

Kejati Banten menetapkan eks kepala cabang bank BUMD Jabar inisial KA sebagai tersangka kredit fiktif senilai Rp 8,7 miliar. Ia bekerja sama dengan tersangka DAW dari pihak swasta dalam pencairan kredit fiktif pembangunan di Pemkab Sumedang.

Kepala Kejati Banten Asep Nana Mulyana menerangkan, kasus ini bermula dari kredit yang diajukan PT DAS milik DAW ke bank BUMD Jabar dengan menggunakan surat perintah kerja sama fiktif senilai Rp 4,5 miliar. DAW juga menggunakan istrinya untuk kredit serupa yang menjabat sebagai direktur utama PT CR dengan flapon Rp 4,2 miliar pada 2015.

Dari penyidikan, diketahui bahwa KA, selain kepala cabang bank BUMD Jabar juga merupakan komisaris di dua perusahaan di atas. Ia tahu persis bagaimana PT DAS dan PT CR yang mengajukan kredit tidak memiliki pekerjaan dan perjanjian dengan Pemkab Sumedang namun meloloskan kredit itu.

"Penyidik yakin dengan dua alat bukti, kami meyakini ada pengetahuan yang cukup, ada niat jahatnya baik dari pada tersangka DAW, maupun pejabat bank yaitu KA yang disamping kepala cabang dari BJB Tangerang dia juga sebagai komisaris di perusahaan tersebut," ujar Asep dalam konferensi pers di Kejati Banten, Jalan Serang-Pandeglang, Banten, Senin (21/12/2020).

Tersangka KA juga tidak memerintahkan bank memverifikasi lapangan atas proyek fiktif di Pemkab Sumedang itu. Antara pejabat bank dan pihak swasta saling bersepakat dan kongkalikong untuk melakukan pembobolan.

"Jadi sudah kerja sama, mereka berkonspirasi melakukan pembobolan bank, karena ini pekerjaan tidak ada, agunan fiktif," tegasnya.

Sejauh ini, kredit dua perusahaan itu pun tidak dibayarkan para tersangka sampai hari ini. Total kerugian atas perbuatan para tersangka senilai Rp 8,7 miliar.

Asep melanjutkan, tersangka DAW hari ini dilakukan penahanan di Rutan Pandeglang untuk 20 hari ke depan. Sementara, tersangka KA sudah dipanggil Kejati namun tidak datang dengan alasan sakit.

"KA sudah dipanggil, tapi ada keterangan dokter dan kita akan panggil kembali," tegasnya.

Para tersangka diancam Pasal 2 UU Tipikor dengan ancaman pidana penjara minimal 4 tahun dan maksimal 20 tahun penjara.

Sementara, Pemimpin Divisi Corporate Bank BJB Widi Hartoto melalui Humas BJB Sonny Permana mengatakan, pihaknya menghormati proses hukum yang dilakukan oleh Kejati Banten. Mengenai ada tersangka dari pihak perbankan, itu menurutnya bukan dari pihak BJB.

"Kita menghormati proses hukum dari semenjak ini dibahas di Kejati Banten. Kita melakukan pemeriksaan terhadap eks pegawai BJB, yang bersangkutan sudah keluar dari BJB dan bukan pegawai BJB. Itu eks pegawai bank dan bertindak sendiri," ujarnya dikonfirmasi.

(bri/mso)