Selama 2020, 192 Kebakaran Terjadi di Kota Bandung

Siti Fatimah - detikNews
Jumat, 18 Des 2020 12:26 WIB
Firemen use a fire hose to try and put out a house fire during a snowfall.
ilustrasi (Foto: iStock)
Bandung -

Sebanyak 192 kejadian kebakaran terjadi di Kota Bandung disepanjang tahun 2020. Menurut Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (Diskar PB), tahun ini mengalami penurunan kasus dibandingkan tahun lalu.

Data Diskar PB menunjukkan pada tahun 2019, jumlah kasus kebakaran mencapai 272 kejadian sedangkan pada tahun 2020 sebanyak 192 kejadian. Sekitar 40 persen kasus kebakaran dapat ditanggulangi dan dipadamkan oleh masyarakat.

"Sekarang ini terjadi penurunan di bawah 200, luar biasa. Kebakaran itu, pada umumnya dari 190 sekian, 40 persen ditangani oleh masyarakat, dipareuman (dipadamkan) masyarakat. Itu luar biasa, bisa diapresiasi," ujar Kepala Diskar PB, Dadang Iriana saat dihubungi Jumat (17/12/2020).

Lebih lanjut, faktor yang mempengaruhi penurunan kasus terjadi karena tingkat kesadaran masyarakat untuk melakukan antisipasi dan penanggulangan secara mandiri yang relatif tumbuh.

Dari total kasus 192 kebakaran, secara rinci 73 kebakaran di pemukiman, 1 kebakaran di pasar, 7 kebakaran di pabrik, 19 kali kebakaran di gardu listrik dan 12 kali kebakaran kendaraan, dan kebakaran bangunan umum terjadi 38 kali. Kemudian, 42 kebakaran terjadi di alang-alang, tabung gas dan kepulan asap di bawah aspal.

Dadang mengatakan, tidak terdapat korban jiwa dalam peristiwa kebakaran di Kota Bandung. Namun, ia mencatat ada 39 orang mengalami luka ringan dan luka bakar.

"Tingkat kesadaran masyarakat tinggi karena ada penyuluhan, sosialisasi dan yang lain-lain. Walaupun dengan anggaran yang sangat terbatas tapi kami mampu untuk meningkatkan kesadaran masyarakat," ujarnya.

Dadang menambahkan, saat ini pihaknya mengalami kendala dari sisi anggaran operasional. Akibatnya membuat permintaan masyarakat belum dapat terpenuhi sepenuhnya secara optimal.

Menurutnya, beberapa kendaraan dibiarkan di markas karena tidak tersalurkan biaya operasional. "Pemenuhan permintaan dari masyarakat maupun kewilayahan belum bisa dilakukan secara optimal, karena bensin harus diirit-irit, enggak ada anggaran saya sekarang ini," ungkapnya.

Dadang mengatakan, pemeliharaan kendaraan Diskar PB mencapai Rp 1.7 miliar namun saat ini pihaknya diberi anggaran Rp 900 juta. Selain itu, kebutuhan solar kendaraan rata-rata mencapai Rp 700 juta.

(mud/mud)