Reorganisasi Klan Atut 'Menangkan' Petahana Tangsel, Pandeglang dan Serang

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Jumat, 11 Des 2020 18:41 WIB
Ilustrasi Fokus Nasib Pilkada Langsung (Andhika Akbaransyah)
(Foto: Ilustrasi Fokus Nasib Pilkada Langsung (Andhika Akbaransyah)
Serang -

Pengamat politik dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Leo Agustino mengatakan bahwa kemenangan petahan Pilkada di Tangerang Selatan, Kabupaten Serang, dan Pandeglang tidak lepas dari reorganisasi politik kekuasaan keluarga Atut Chosiyah pasca dirinya dijebloskan ke KPK pada 2013. Klan ini ia nilai berhasil menyusun kekuatan politik agar tetap berkuasa khususnya di Banten.

Leo menjelaskan, ada asumsi bahwa pada 2013, klan politik dinasti keluarga yang lekat dengan nama keluarga Bhayangkara ini dianggap selesai pasca Atut sebagai gubernur Banten terjerat kasus korupsi. Asumsi ini kemudian salah, karena nyatanya keluarga Bhayangkara kerap memenangi pilkada. Titik awalnya adalah setelah adik Atut atau Tatu Chasanah yang juga Bupati Serang dan saat ini menang sementara di Pilkada menjadi pimpinan tertinggi Golkar di Banten.

"Ini momen awal merancang kemenangan. Kemudian dilakukan untuk menempatkan klannya, jagonya di Tangsel, dia (Tatu) menempatkan anaknya, di Pandeglang menempatkan Tanto, dan di Serang dia (Tatu) main sendiri. Kemenangan petahana tidak luput dari keluarga Bhayangkara," kata Leo saat berbincang dengan detikcom di Serang, Banten, Jumat (11/12/2020).

Rencana politik yang mereka bangun untuk partai dan klannya, kata Leo, tidak hanya sampai di situ. Dalam konteks pemilihan gubernur Banten 2022, mereka bisa saja menempatkan Andika Hazrumy yang saat ini menjabat wakil gubernur Banten, dan merupakan anak pertama Atut, dicalonkan sebagai calon gubernur mendatang.

Di samping itu, ini juga bisa jadi kekuatan tambahan meraup pemilih bagi partai Golkar saat akan mengusung kader internal di pemilihan presiden pada 2024. Apalagi, partai ini sejak 1997 sudah tidak mencalonkan kadernya sebagai presiden.

"Ini planning besar, ini planning memenangkan Andika saya lihat. Kita tahu WH (Wahidin Halim) sejak ketuk palu nggak akur, tapi itu pergulatan mereka berdua. Tapi dalam konteks politik, Andika maju di 2022, makanya harus habis-habisan di Pandeglang, Serang dan Tangsel," ujarnya.

Di kasus Tangsel, Leo menyoroti adanya faktor kasus korupsi Edhy Prabowo yang ditangkap KPK menjadikan petahana menang. Kasus ini cukup mempengaruhi persepsi pemilih untuk mendukung Benyamin Davnie yang merupakan petahana meskipun berpasangan dengan Pilar Saga Ichsan yang datang dari klan Atut.

Padahal katanya, pollster atau banyak lembaga survei besar sebelum ada penangkapan Edhy, menempatkan Muhamad-Saras di urutan pertama. Tapi, begitu menteri ini ditangkap, persepsi pemilih jadi menimbang untuk menentukan pilihan.

"Selain itu di Banten ini adalah pemilih tradisional yang belum mau move on dari orang-orang yang selama ini memimpin mereka," terangnya.

(bri/mud)