Vaksin Sinovac Tiba di Indonesia, Jabar Prioritaskan untuk Zona Merah

Yudha Maulana - detikNews
Senin, 07 Des 2020 11:58 WIB
Sekda Jabar Setiawan Wangsaatmaja
Foto: Sekda Jabar Setiawan Wangsaatmadja (Mukhlis Dinillah).
Bandung -

Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan memprioritaskan vaksinasi COVID-19 kepada warga yang berada di zona merah atau daerah dengan risiko penularan Corona yang tinggi. Pernyataan itu menyusul datangnya 1,2 juta dosis vaksin Sinovac di Indonesia.

"Vaksin ini disampaikan secara bertahap, kami di Jawa Barat memprioritaskan, bahwa daerah dengan yang berisiko tinggi dulu (yang divaksinasi) bila ada kuota vaksin yang disampaikan dari pemerintah pusat," ujar Sekretaris Daerah Jawa Barat Setiawan Wangsaatmaja di Hotel Pullman, Kota Bandung, Senin (7/12).

"Iya zona-zona berisiko tinggi, zona merah itu," imbuhnya.

Setiawan yang juga menjabat sebagai Ketua Harian Komite Penanggulangan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Daerah (KPCPED) Jabar itu mengatakan, sampai saat ini belum diketahui secara pasti berapa jumlah dosis vaksin yang diterima Jabar dari pemerintah pusat.

"Kita belum tahu persis (kuotanya), tapi sesuai kriteria pertama, pertama penerima vaksin itu berusia 18-59 tahun, tidak berisiko dan sebagainya," katanya.

Setiawan mengatakan, idealnya pemberian vaksin diberikan kepada 60 persen jumlah penduduk di Jabar. Yakni, sekitar 25-26 juta jiwa. "Dengan kriteria yang disampaikan pertama, kami paham betul ini harus ada prioritas, jadi prioritasnya zona merah, lalu dari zona merah tersebut kita kriteriakan lagi yang paling visible artinya berapa, misal di Bodebek 2,6 juta orang yang kita prioritaskan, kemudian di Bandung Raya," ucapnya.

Seperti diketahui 1,2 juta vaksin Sinovac tiba di Indonesia pada Senin (7/12) malam. Jutaan dosis vaksin itu disimpan dalam 7 envirotainer yang diangkut menggunakan tiga truk dan dikirimkan kembali ke Bio Farma di Kota Bandung sekitar pukul 03.45 WIB.

Direncanakan, pekan depan akan tiba 1,8 juta vaksin tambahan dari Sinovac. Saat ini jutaan dosis vaksin disimpan di Biofarma seraya menanti izin pemakaian dari Badan POM RI, sebelum disuntikkan kepada masyarakat.

Sejauh ini, katanya, Pemprov Jabar juga telah melakukan persiapan dengan menggelar simulasi vaksinas di dua kota dan satu kabupaten. Dari simulasi tersebut, sambungnya, diketahui jika pemberian vaksin di Puskesmas secara massal itu kurang optimal.

"Karena di Puskesmas space-nya terbatas, dari hasil simulasi ketahuan bahwa setiap individu yang divaksin itu memerlukan waktu 30 menit ke atas, artinya ketika waktu tunggu tersebut hadir masyarakat yang ingin divaksin lagi, itu terjadi penumpukan. seyogyanya pak gubernur bilang vaksinasi ini bisa dilakukan di ruangan besar, misal gelanggang olahraga atau gedung besar lainnya," ujar Setiawan.

(yum/mso)