Mengenang Kembali Pertempuran di Lengkong Bandung

Yudha Maulana - detikNews
Sabtu, 05 Des 2020 12:27 WIB
Kelompok Anak Rakyat (Lokra)
Peringatan ke-75 Pertempuran Lengkong di Kota Bandung (Foto: dok.Lokra/Dwitya Utama)
Bandung -

Air mata rakyat Bandung tumpah akibat banjir bandang Sungai Cikapundung pada 25 November 1945. Banjir menelan sekurang-kurangnya 200 korban jiwa dan menghancurkan 500 rumah penduduk di wilayah Lengkong, Kota Bandung.

Anak-anak, perempuan dan lelaki dewasa terbawa hanyut oleh air bah yang datang pada malam hari itu. Kawasan Lengkong, Banceuy, Sasak Gantung dan Balubur seketika berubah menjadi telaga, karena ketinggian air mencapai 3 - 4 meter.

Belum kering air mata rakyat Bandung, desing senjata membabi buta terdengar dari selongsong Tentara Inggris dan Pasukan Gurkha yang mendekati perkampungan pada keesokan malam harinya. Mereka menembaki para pemuda, tentara dan laskar pejuang yang tengah memberikan pertolongan kepada para korban bencana.

75 tahun berlalu sejak tragedi tersebut terjadi, pemerintah pun membangun sebuah tugu berupa batu dan monumen senapan mesin, untuk mengingat para korban perang pertempuran Lengkong. Monumen pengingat sejarah itu terletak di simpang Lengkong Besar - Cikawao.

Waktu berputar cepat, desingan peluru yang keluar dari selongsong senapan mesin kini berubah menjadi deru lalu lalang kendaraan. Pelintas jalan pada umumnya mungkin hirau, tapi Kelompok Anak Rakyat (Lokra) mencoba menghayati kembali peristiwa tersebut.

Pegiat sejarah dari Lokra Gatot Gunawan mengatakan, rakyat sipil yang hendak menyelamatkan diri dari bencana ke dekat Hotel Homann pun tak luput dari sasaran tembak. Rentetan penembakan ini terjadi sejak 21 November, Sekutu ditugaskan membebaskan tawanan dan interniran Belanda di Tuindorp (sekarang Jalan Lengkong Tengah) dan Ciateul, serta melucuti pasukan Jepang.

"Pada awalnya Sekutu datang untuk membebaskan tawanan-tawanan perang di Tuindrop, mereka datang dan melancarkan sejumlah aksi provokasi. Bisa dibayangkan saat rakyat kita sedang berduka dan diberi pertolongan, malah ditembaki. Pejuang tidak terima, tetapi dari beberapa versi lainnya Tentara Inggris tidak tahu antara warga sipil atau pejuang," kata Gatot saat dihubungi detikcom, beberapa waktu lalu.

Selanjutnya
Halaman
1 2