Mengenang Kembali Pertempuran di Lengkong Bandung

Yudha Maulana - detikNews
Sabtu, 05 Des 2020 12:27 WIB
Kelompok Anak Rakyat (Lokra)
Peringatan ke-75 Pertempuran Lengkong di Kota Bandung (Foto: dok.Lokra/Dwitya Utama)
Pada 27 November, Panglima Sekutu di Jawa Barat Brigjen N Macdonald mengeluarkan ultimatum yang ditujukan kepada penduduk Bandung, agar selambat-lambatnya meninggalkan Bandung Utara dalam tempo dua hari dengan demarkasi jalur kereta api. Walau begitu rakyat tak mau tunduk begitu saja, hal itu membuat tentara Inggris jengkel dan mengusir paksa pribumi dari Bandung Utara.

"Ketika itu Jenderal A.H Nasution memerintahkan agar pasukan dan warga mengungsi ke selatan Bandung, meski begitu perlawanan terus berjalan. Sampai akhirnya pada 2 Desember Tentara Inggris melakukan penyerangan ke wilayah selatan Bandung yang saat itu padat penduduk dengan dalih membebaskan tawanan di Tuindorp," kata Gatot.

Gatot mengatakan kekuatan Tentara Inggris sangat besar kala itu, pertahanan tentara dan pejuang Indonesia dibombardir dari udara oleh Angkatan Udara Inggris, Royal Air Force (RAF). Muntahan meriam dari kanon tank-tank Inggris membuat pejuang Indonesia sulit melawan balik, walau sebagian pejuang berhasil melumpuhkan alutsista Sekutu yang modern.

"Ketika 2 Desember air sudah mulai surut, ketika pejuang ini mengevakuasi korban, tiba-tiba ada serangan mendadak dari jam 6 pagi sampai jam 9 malam. Indonesia diserang duluan, pasukan akhirnya mundur ke Tegalega. Bisa dibayangkan saat itu kondisinya mengerikan sekali karena ceceran bagian tubuh rakyat Bandung terserak," katanya.

Rangkaian peristiwa ini, ucap Gatot, menjadi pemicu peristiwa Bandung Lautan Api pada 24 Maret 1946. Untuk mengenang pertempuran besar itu, Lokra menyimpan karangan bunga dan membuat teatrikal sederhana di depan tugu dan Sungai Cikapundung pada 2 Desember lalu.

"Tujuan utamanya adalah supaya kita tidak jatuh kepada lubang yang sama, kami berharap perdamaian ini datang untuk kita, anak-anak generasi sekarang akan memastikan bahwa perang tidak akan terjadi lagi," ujar Gatot.

Halaman

(yum/bbn)