Debat Pilkada Serang

Sungai Ciujung Tercemar Limbah, Ini Solusi dari 2 Paslon di Pilbup Serang

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Rabu, 25 Nov 2020 22:55 WIB
Debat Kedua Pilkada Serang.s
Foto: Debat Pilkada Serang (Istimewa).
Serang -

Masalah pencemaran Sungai Ciujung oleh limbah industri jadi bahasan di debat Pilkada Kabupaten Serang 2020. Kira-kira, punya solusi apa pasangan petahana Tatu Chasanah-Pandji Tirtayasa dan penantangnya Nasrul Ulum-Eki Baihaki?

Pasangan calon bupati dan wakil bupati Nasrul-Eki mengatakan bahwa sesuai dengan UU bahwa kabupaten/kota memang tidak memiliki izin berkaitan dengan amdal. Tapi, kabupaten bisa bersinergi dengan wilayah provinsi untuk melakukan penegakan hukum jika ada pencemaran lingkungan akibat industri yang salah satunya di sungai Ciujung Banten.

"Sampai saat ini pemerintah Serang bisa dilihat belum banyak berbuat apa yang sudah disampaikan masyarakat di Kabupaten Serang," kata Eki yang mencakup masalah ini saat debat, Rabu (25/11/2020).

Supervisi dari pemerintah kabupaten atas soal ini ia sebut jauh dari layak. Banyak, katanya warga yang membicarakan soal ini termasuk saat ia berdiskusi dengan akademisi dan aktivis lingkungan. Mereka kebanyakan menyatakan bahwa banyak industri di Serang khususnya bagian timur yang belum memenuhi standar pembuangan limbah ke Ciujung.

Pasangan Tatu-Pandji Tirtayasa mengatakan bahwa pemanfaatan sumber daya alam memang tidak bisa dihindari. Tapi memang harus bijak agar ekosistem tidak rusak.

Mereka mengaku memiliki program penataan ruang. Dimana kawasan dikembangkan jadi wilayah industri, bukan industri sampai daerah resapan air dan pertanian. Khusus pertanian, ada 31 ribu hektare kawasan pertanian yang dilarang dialihfungsikan. Area ini khususnya untuk pemenuhan kebutuhan pangan.

"Tidak semua harus kita bangun dan kita eksploitasi ada yang harus dipelihara dan dijaga," kata calon wakil bupati Pandji.

Soal limbah di Ciujung, ia sendiri menganggap itu limbah situasional. Pada saat kemarau, sungai Ciujung memang terasa ada pencemaran limbah.

"Pada saat kemarau akan terasa karena instalasi pengolah limbah yang industri di situ sudah mencukupi tapi dengan debit air rendah, kentara ada pencemaran. Itu tidak bisa digeneralisasikan," ujarnya.

(bri/mso)