LAN-RI: Aksesibiltas ASN ke e-Learning Terpacu di Masa Pandemi COVID-19

Yudha Maulana - detikNews
Rabu, 25 Nov 2020 21:27 WIB
Poster
Foto:Ilustrasi (Edi Wahyono/detikcom).
Bandung -

Pandemi COVID-19 nyaris mengubah sendi-sendi kehidupan manusia, termasuk cara kerja aparatur sipil negara (ASN), yang didorong untuk menggunakan cara-cara baru yang berbasis teknologi informasi.

Deputi Kajian dan Inovasi Manajemen Aparatur Sipil Negara, Lembaga Administrasi Negara (LAN)-RI Agus Sudrajat mengatakan pergeseran orientasi tersebut perlu diakomodasi dalam menyusun kebutuhan kompetensi teknis dalam penyelenggaraan pelatihan dan pengembangan ASN di Indonesia. Salah satunya melalui E-learning.

"E-learning mengubah yang tadinya dilakukan semuanya secara klasikal (tatap muka), berubah jadi 10 persennya saja yang klasikal. Sisanya nonklasikal (daring). Pola pembelajaran ini berubah dimulai dari 2019. LAN membuat e-learning, di aplikasi tiap ASN punya akses untuk belajar sendiri, kita kolaborasi dengan kementerian dan lembaga lain," kata Agus dalam Diskusi Publik 'Membangun ASN Unggul Melalui Pengembangan Kompetensi Teknis ASN', di Kota Bandung, Rabu (25/11).

Ia mengatakan, walau demikian masih ada sejumlah kendala yang dihadapi ASN dalam mengakses e-learning. Di antaranya masih ada wilayah yang berada di dalam blank spot internet.

"Jadi jangan dibayangkan di Jawa saja, di luar Jawa ada teman-teman ASN yang sulit mengakses internet, makanya LAN kerjasama dengan Kominfo supaya kawan-kawan yang sulit mengakeses internet difasiltiasi dengan mobile internet," katanya.

Selain itu, ASN yang memasuki usia pensiun pun cenderung kesulitan dalam mengakses digitalisasi. Dari catatan LAN-RI jumlah ASN di Indonesia saat ini mencapai 4 juta orang. 19 persen di antaranya berusia 45-60 tahun, atau memasuki masa pensiun.

Ia mengatakan, presentase ASN yang dapat mengakses digitalisasi masih minim dalam rentang usia generasi baby boomers tersebut. "Dari 19 persen itu, cuma 0,47 persen (ASN prapensiun) yang masih mau dan bisa mengikuti (e-learning)," ujarnya.

Wabah yang merebak dalam hampir satu tahun terakhir, dikatakan Agus, justru mengakselerasi ASN agar lebih akrab dengan iklim digital. "Pandemi justru memacu (aksesibilitas ASN ke e-learning), karena di sini terlihat mana yang berkinerja, mana yang tidak berkinerja," katanya.

Walau begitu, dia menambahkan, pertemuan di luar jaringan (luring) atau klasikal juga akan tetap dibutuhkan untuk menjalin tali emosional antarpeserta didik. "Sehingga ketika mereka harus berkolaborasi pasca pendidikan, kolaborasi akan lebih mudah dilakukan," ujar Agus.

Kepala Puslatbang PKASN LAN-RI Hari Nugraha mengatakan ada aplikasi ASN Unggul, yang memberikan materi bagi ASN yang mengikuti pendidikan, dan terpantau oleh fasilitator. "Kalau materi tidak ada keluhan, tetapi keluhan umum biasanya kelelahan mata, capek duduk, karena melihat monitor berbeda dengan klasikal," ujar Hari.

(yum/mso)