Perjuangan Guru Honorer di KBB Lewati Jalan Berlumpur Demi Mengajar

Yudha Maulana - detikNews
Rabu, 25 Nov 2020 15:03 WIB
Ivan Abdul Rahman Junianto, guru honorer asal Bandung Barat.
Foto: Ivan Abdul Rahman Junianto, guru honorer asal Bandung Barat (Istimewa).
Bandung -

Pulang ke rumah dengan bermandikan lumpur bercampur tanah merah, sudah menjadi santapan sehari-hari bagi Ivan Abdul Rahman Junianto (31) di musim penghujan. Guru honorer yang berbakti di SDN Cibungur Kelas Jauh Cijuhung sejak 13 tahun silam itu harus melewati medan ekstrem untuk menebar ilmu bagi muridnya di tepian Waduk Cirata di Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Lokasi Kelas Jauh Cijuhung memang agak terpencil. Jarak dari jalan utama menuju sekolah berjarak kurang lebih delapan kilometer. Jangan dibayangkan jalannya mulus, akses menuju rumah dengan 60 murid itu harus melewati area perkebunan dan hutan dengan kontur yang curam.

Cara lainnya, Kelas Jauh Cijuhung ini bisa diakses dengan menggunakan perahu dari Cibungur. Tetapi, akses transportasi itu jarang digunakan karena biaya ongkos transportasi yang mahal sekitar Rp 25 ribu, sekali jalan. Perahu pun jarang menarik penumpang ke Cijuhung, bila eceng gondok memenuhi muka air.

"Awalnya pas pertama saya ke sana, saya berjalan kaki hampir satu jam setengah, naik turun dua gunung. Kemudian kalau naik motor juga pada awal-awalnya satu jam lebih, motor juga harus diganti dengan ban trail. Jalan perkebunan batu dan tanah, pernah sampai sekolah itu dua jam," ujar Ivan saat dihubungi, Rabu (25/11/2020).

Jatuh dari sepeda motor, karena jalanan berlumpur dan licin menjadi tantangan tersendiri yang harus dilewati Ivan. Beruntung, selama belasan tahun berkiprah, ia tak pernah mengalami cedera yang parah.

"Sampai sekolah boro-boro pengen ngajar kadang istirahat dulu, kadang langsung. Tapi ke sini-sini mulai terbiasa. Kalau cedera parah belum pernah, paling sakit pinggang," lanjut Ivan.

Di Cijuhung sendiri, rata-rata murid yang bersekolah di sana adalah anak-anak dari pegawai perkebunan. Rumah warga pun masih jarang dan lokasinya berderet di sepanjang danau Waduk Cirata. Para murid harus melewati undakan bukit secara bersamaan, atau menaiki perahu dan rakit yang dibayar perbulan.

"Kebanyakan anak dari pekerja perkebunan, atau pendatang dari Cianjur. Di Cijuhung ini, sekolah hanya pagi saja, kalau dipaksakan sampai sore kasihan anak-anak, pulangnya jauh," ucap Ivan.

Bicara soal fasilitas, di sekolah tersebut hanya ada satu laptop yang dimanfaatkan oleh 60 murid untuk menggelar mata pelajaran komputer. Di sana, Ivan dan dua orang guru lainnya yang masing-masing berstatus honorer dan PNS, juga mengajari sekitar sekitar 30 murid SMP.

"Jadinya kita dituntut untuk bisa segala bisa, saya dari Bahasa Indonesia, mengajar juga bahasa Inggris dan lainnya," ucap ayah beranak dua itu.

Di tengah keterbatasan itu, Ivan mengaku bertahan karena melihat semangat belajar dari murid-muridnya.

"Motivasi yang buat saya bertahan, ialah siswa di sana, jd kalau pun ketika hujan atau apapun mereka tetap semangat. Bahkan sekarang ada SMP, alhamdulillah jadi anak-anak bisa melanjutkan pendidikan," katanya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3