ADVERTISEMENT

Penjual Pupuk Organik di Lembang Mengeluh Penjualan Turun Selama Pandemi

Whisnu Pradana - detikNews
Senin, 16 Nov 2020 17:17 WIB
Penjual pupuk organik mengeluhkan menurunnya penjualan selama pandemi
Penjual pupuk organik mengeluhkan menurunnya penjualan selama pandemi (Foto: Whisnu Pradana)
Lembang -

Peternak sapi perah sekaligus pembuat pupuk organik berbahan baku kotoran sapi di Lembang mengeluhkan menurunnya penjualan pupuk kotoran sapi selama pandemi COVID-19.

Mereka meminta perhatian serta bantuan pemerintah dalam hal pemasaran pupuk organik berbahan baku kotoran sapi. Selama pandemi COVID-19, hampir tak ada pupuk kotoran sapi yang terjual sehingga stok pupuk terpaksa ditumpuk di gudang penyimpanan. Sejak pandemi COVID-19, sebanyak 200 karung pupuk hanya teronggok di gudang karena tidak laku dipasarkan.

"Kami ingin diperhatikan juga oleh pemerintah seperti yang lainnya. Kami sebagai pembuat dam penjual pupuk kotoran sapi merasa terpinggirkan, nggak ada perhatian sama sekali," ungkap Jajang, 54, peternak asal Kampung Batuloceng, Desa Suntenjaya, Lembang, Senin (16/11/2020).

"Selama ini kendalanya pemasaran, kalau dijual kepada petani lokal, kita bentroknya dengan kotoran ayam yang hanya dijual Rp 8 ribu per karung. Sedangkan limbah kotoran sapi sekali produksi menghabiskan Rp 14 ribu per karung, terlalu mahal," tambah Jajang.

Menurutnya prospek penjualan pupuk kotoran sapi sebenarnya cukup menjanjikan. Dalam seminggu di waktu normal, pupuk kotoran sapi yang terjual bisa mencapai 2 ton. Kendalanya yakni pihaknya tidak mempunyai alat transportasi untuk mengantarkan pesanan.

"Bisa terjual sampai 2 ton perminggu. Tapi berhubung alat angkutnya hasil pinjam, kita enggak bisa jualan lagi karena pemasarannya sampai ke Cimahi dan Cibiru. Pernah kita mengajukan ke KPSBU untuk meminjam kendaraan tapi enggak pernah diizinkan," ujarnya.

Jika tak ada dukungan pemerintah, secara tidak langsung program Citarum Harum yang dicanangkan pemerintah pusat bisa terhambat sebab para peternak bisa kembali membuang limbah kotoran sapinya ke aliran Sungai Cikapundung yang bermuara ke Sungai Citarum.

"Kalau bisa bersaing dengan kotoran ayam, minimal dijual Rp 10 ribu saja sudah beres penjualan, bisa masuk ke petani lokal. Cuma sekarang biaya produksinya kemahalan, masa biaya yang Rp 4 ribu harus kita yang nombok. Mungkin bisa ada subsidi dari pemerintah," ujarnya.

Keluhan Jajang ini pun sudah disampaikan langsung kepada Staf Deputi I Bidang Pengelolaan dan Pengendalian Proritas Nasional Kantor Staf Presiden RI Trijoko Mohamad Solehoedin saat dirinya berkunjung ke Kampung Batuloceng, beberapa waktu lalu.

"Kalau dibantu akses penjualan, tiap hari kita pasti kerjain. Kalau sekedar ditumpuk di saung, dua bulan juga pasti sudah penuh. Ya akhirnya, mau dikemanakan sisa limbahnya, apa mau dibuang lagi ke sungai," jelasnya.

(mud/mud)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT