Menabung untuk Tangan Baru, Meymey Tetap Ceria Meskipun Pernah Dibully

Syahdan Alamsyah - detikNews
Sabtu, 14 Nov 2020 13:27 WIB
Senyum Meysa Widiya mengembang saat melihat kedatangan awak media di kediamannya, Kampung Rancaseel, RT 18 RW 9 Desa/Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi. Gadis berusia 7 tahun itu rela menabung demi mendapatkan tangan palsu. Tangan kiri gadis itu putus, setelah sebelumnya patah karena terjatuh pada pertengahan bulan Agustus 2020 lalu. Darin (40) sang ayah hanya seorang guru ngaji, sedikit rejeki yang ia peroleh hanya cukup untuk membayar listrik dan makan sehari-hari istri dan tiga anaknya termasuk Meymey, panggilan akrab Meysa.
Foto: Syahdan Alamsyah
Sukabumi -

Meysa Widiya (7), bocah perempuan asal Kampung Rancaseel, RT 18 RW 9 Desa/Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi ini kehilangan tangan kirinya akibat terjatuh pada awal Agustus lalu. Tangannya membusuk hingga terpaksa diamputasi.

Anak guru ngaji yang duduk di kelas 1 SD itu tidak lantas bersedih. Ia tetap ceria bermain dengan kakak dan teman sebayanya. Meskipun di awal-awal perubahan fisiknya, ia kerap mendapat perundungan dari teman-temannya. Namun Muhammad Darin (40) sang ayah bertindak cepat dan mengambil sikap untuk memperbaiki sikap tidak sehat tersebut.

"Anak saya itu selalu ceria, senyumnya selalu mengembang meskipun kondisinya saat ini berbeda. Di minggu-minggu pertama memang ada yang ngeledekin, ada yang apa ya istilahnya namanya juga kami tinggal di kampung. Karena kebetulan kan sering ada anak-anak yang main ke rumah, tapi saya nasihatin baik-baik ke mereka saya bilang nanti Rasul marah Allah marah karena saling menjelekkan. Akhirnya anak-anak itu mengerti dan tidak lagi berbuat seperti itu," ungkap Darin, ayah dari gadis yang akrab dipanggil Meymey itu kepada wartawan, Sabtu (14/11/2020).

Sehari-harinya Darin mengajar ngaji dari masjid ke masjid, setelah kondisi putrinya seperti itu ia membiasakan agar anak-anak sebaya Meymey untuk bermain ke rumah sebelum pengajian. Hal itu dilakukan Darin agar putrinya terbiasa dan tidak merasa minder dengan perubahan kondisi fisiknya. Hanya beberapa hari, Meymey mulai terbiasa begitu juga dengan teman-temannya.

"Saya ngumpulin anak-anak di rumah dulu sebelum ke majelis maksudnya biar dia terbiasa dulu bergaul dengan teman seusianya. Alhamdulillah enggak minder barusan juga ada yang main dua orang ke sini biasa aja main," lirih Darin.

Perlahan air mata meleleh dari sudut mata Darin. Keinginannya untuk membelikan tangan palsu untuk sang anak tidak sebanding dengan penghasilannya sehari-hari. Pria lulusan madrasah tsanawiyah itu mengurut dadanya pelan.

"Kadang kalau dari iuran ngaji satu bulan itu dapat enggak seberapa ditambah ngajar di madrasah kalau di total Rp 700 ribu satu bulan. Untuk makan anak-istri ditambah token listrik habis," tuturmya.

Darin mengaku terharu, meskipun masih berusia 7 tahun justru putrinyalah yang terus memberikan kekuatan. Ketika terlihat sang ayah terenyuh putrinya itu kerap mendekat dan memeluknya.

"Jujur saya terharu, anak saya ini kuat, tegar dan selalu tersenyum. Dia selalu cerita, pak tenang aja tabungan lama-lama juga terkumpul. Sabar aja, kata dia sambil memperlihatkan celengannya," pungkas Darin.

Diberitakan, tangan kiri Meymey putus karena patah terjatuh pada pertengahan bulan Agustus 2020 lalu. Darin (40) sang ayah hanya seorang guru ngaji, sedikit rezeki yang ia peroleh hanya cukup untuk membayar listrik dan makan sehari-hari istri dan tiga anaknya termasuk Meymey, panggilan akrab Meysa.

"Kejadiannya hari Selasa 4 Agustus pagi, waktu itu anak saya terjatuh saat ikut ibunya ke warung. Masuk ke selokan sedalam 1 meter, jatuhnya telungkup tangan kanannya kan lagi pegang coklat ke atas sementara tangan kirinya mungkin seperti ini ketutup badannya saat diangkat ternyata sudah bengkok," ungkap Darin ia mempergakan posisi putrinya itu dalam posisi jatuh, kepada wartawan, Sabfu (14/11/2020).

Meymey kemudian menabung untuk mendapatkan tangan baru, selain uang jajan, uang dari pemberian warga yang simpati kepadanya juga ia kumpulkan.

(sya/ern)