Kasus Ibu Hamil Ditandu Sampai Gugur karena Jalan Rusak, Berapa IPM Lebak?

Bachtiar Rifa'i - detikNews
Senin, 09 Nov 2020 20:21 WIB
Ibu Hamil di Lebak Ditandu
Foto: tangkapan layar Facebook
Lebak - Kisah menyedihkan akibat jalan rusak di Kabupaten Lebak sering terjadi. Mulai dari ibu hamil ditandu sampai ada warga pernah keguguran karena akses kesehatan terhambat akibat infrastruktur buruk.

Berdasarkan arsip pemberitaan detikcom, pada September 2019 pernah ada peristiwa gugurnya janin pasangan Kenti dan Hendi asal Desa Mekarjaya, Kecamatan Panggarangan. Kenti yang hamil ditandu 7 kilometer oleh 25 warga kampung untuk sampai ke Puskesmas Panggarangan. Tapi, janin tidak menunjukkan kehidupan begitu sampai ke puskesmas.

Baru-baru ini, kondisi ibu hamil ditandu juga terulang di Kampung Bitung, Desa Barunai, Kecamatan Cihara. Video evakuasi ibu hamil karena jalan rusak kemudian viral dan warga yang memvideokan bernama Badrudin kemudian dipolisikan oleh kepala desa setempat. Berita ini kemudian direspons oleh berbagai pihak termasuk DPR RI.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sering digunakan untuk mengukur tingkat pencapaian keberhasilan manusia di suatu daerah. Lalu berapa sih IPM Lebak yang saat ini dipimpin oleh Bupati Iti Octavia Jayabaya dan Wakil Bupati Ade Sumardi ini?

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), IPM Kabupaten Lebak ternyata ada di posisi paling rendah dibandingkan delapan kabupaten kota se-Banten. Nilainya indeksnya pembangunan manusianya hanya 63,88 pada 2019.

Jumlah penduduk miskin mencapai 107 ribu orang lebih atau 8,30 persen dari total penduduk Lebak di angka 1,3 juta orang.

Untuk angka melek huruf, persentase penduduk 15 tahun ke atas yang bisa membaca huruf latin mencapai 95 persen pada 2018-2019. Angka tersebut menunjukkan bahwa dari 100 orang, 95 orang diantara melek huruf dan sisanya masih tidak bisa membaca.

Untuk tingkat pengangguran terbuka, angka pengangguran daerah ini mencapai 9,63 persen berdasarkan survei terakhir BPS 2020. Lebak jadi daerah dengan urutan keempat se-Banten yang menyumpang pengangguran. Urutan pertama sampai ketiga diisi oleh daerah industri yaitu Kabupaten Tangerang, Kota Cilegon dan Kabupaten Serang. Lebak sendiri adalah daerah di tanah jawara yang masuk kategori bukan daerah industri.

Akademisi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Abdul Hamid menjelaskan, IPM Lebak memang jadi yang terendah se-Banten. Ini menunjukkan ada kesenjangan tinggi dengan daerah lain, apalagi dibandingkan dengan Tangerang Selatan yang IPMnya mencapai 81,48. Rendahnya IPM ini, bisa saja akibat layanan kesehatan yang tidak maksimal dan infrastruktur yang buruk.

"Berkaca dari personal di media ada orang sakit ditandu, itu ada dua persoalan. Pertama layanan kesehatan, kedua infrastrukturnya. Lebak bukan terendah dalam (langka layanan) kesehatan, dia itu nomor tiga, pertama paling rendah Pandeglang, Kabupaten Serang dan Lebak. Tapi kondisi itu untuk Lebak diperparah dengan infrastruktur di daerah yang parah," Hamid berbincang dengan detikcom, Senin (9/11/2020).

Tapi, menurutnya yang paling banyak menyumbang IPM Lebak rendah adalah aspek pendidikan. Masalahnya, angka rata-rata pendidikan di Lebak hanya 6,3 tahun atau hanya lulusan SD dan dan sebentar merasakan sekolah di SMP.

"Di Lebak hanya 6,3 tahun. Itu SD lulus, SMP sebentar terus kawin atau terus kerja kerja. Jadi rendah dibandingkan Tangsel 11,8, atau Provinsi Banten 8,74 tahun. Artinya kemudian Lebak itu lulus SD sedikit, provinsi lulus SMP, Tangsel lulus SMA," ujarnya.

Kondisi ini menurutnya jadi yang memprihatinkan untuk Lebak. Padahal, daerah ini sebentar lagi memiliki akses tol Serang-Panimbang. Ia melihat bahwa ada masalah dari fokus pembangunan di sana. Mestinya, ada upaya pembangunan manusia disamping pembangunan pariwisata dan infrastruktur.

(bri/ern)