Minim Alat Deteksi Banjir, SDA Jabar Siagakan Petugas 24 Jam

Yudha Maulana - detikNews
Kamis, 22 Okt 2020 18:00 WIB
Ilustrasi Jalan tertutup akibat banjir, pengalihan arus akibat banjir, awas banjir
Foto: Ilustrasi Jalan tertutup akibat banjir (Andhika-detikcom)
Bandung -

Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi Jawa Barat menyiagakan petugas selama 24 jam untuk mencatat tinggi muka air (TMA) di enam wilayah sungai yang berada di Jawa Barat. Pembersihan dan normalisasi aliran sungai pun dilakukan di ratusan titik yang rawan banjir.

Kepala Dinas SDA Jawa Barat Dikky Achmad Sidik mengatakan, pihaknya bersama unsur lainnya seperti Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sudah mengantisipasi datangnya musim hujan saat ini.

"Kami sudah berkoordinasi, sudah membersihkan aliran-aliran air untuk mengantisipasi banjir," kata Dikky di Bandung, Kamis (22/10/2020).

Saat ini, sejumlah area di enam aliran sungai yang mengalir di Tatar Pasundan ini telah dinormalisasi, seperti di bagian selatan Cisadea-Cibareno dan Ciwulan-Cilaki. Normalisasi dilakukan dengan membersihkan sampah atau pengerukan sedimentasi agar aliran air tak terhambat.

"Karena ada juga yang kewenangannya di BBWS," ujar Dikky.

Pihaknya saat ini tengah memperbaiki early warning system (EWS) atau sistem peringatan dini banjir di setiap aliran sungai. Selain itu, belum semua aliran sungai dilengkapi EWS. Sebab itu, ia menyiagakan tim kaji cepat di enam UPTD sungai yang berada di lingkup SDA Jabar.

"Masih banyak yang belum dilengkapi EWS, sehingga kita turunkan petugas untuk membaca curah hujan, melaporkan ketinggian air. Sehingga nanti bisa segera menginformasikan jika diperkirakan banjir," tuturnya.

Selain mencatat ketinggian air, tim kaji cepat ini bertugas 24 jam dengan sistem piket untuk membersihkan sampah dan meninjau bila ada infrastruktur pengendali banjir yang rusak. "Ada yang piket, untuk antisipasi jika ada infrastruktur yang rusak, banyak sampah, dan sebagainya," kata Dikky.

"Petugas bertugas 24 jam penuh untuk mencatat debit dan ketinggian air di masing-masing daerah aliran sungai, terutama yang merupakan titik rawan banjir seperti di Tasikmalaya, Pangandaran, Garut, dan Sukabumi," dia menambahkan.

Sebagai contoh, dia menyebut, tim khusus tersebut sudah memperbaiki saluran pembuang irigasi sungai yang jebol di Cileunyi, Kabupaten Bandung. "Tapi memang kami mengerjakan yang sifatnya kedaruratan, yang memungkinkan untuk kami kerjakan," ucap Dikky.

Simak juga video 'Antisipasi Pemerintah Atasi Bencana Hidrometeorologi di Masa Pandemi Corona':

[Gambas:Video 20detik]



(yum/bbn)