Cegah Longsor, Kabupaten Bandung Semprot Lereng Dengan Cairan Polimer

Muhammad Iqbal - detikNews
Sabtu, 17 Okt 2020 22:01 WIB
Lereng di kabupaten bandung disemprot cairan polimer
Foto: Muhammad Iqbal
Bandung -

BPBD Kabupaten Bandung mulai menerapkan teknologi yang diklaim anti longsor. Teknologi tersebut menggunakan sebuah cairan polimer yang disemprotkan pada sebuah lereng tanah.

Saat ini, polimer tersebut mulai diterapkan di salah satu lereng daerah Kecamatan Pasirjambu dan Ibun. Selain menggunakan polimer, tanaman vetiver pun ditanam di sekitar lereng yang disemprotkan polimer.

"Polimerasi ini baru dilakukan di Cibodas (Pasirjambu) dan Ibun beberapa Minggu lalu baru mulai. Polimer ini baru di Kabupaten Bandung. Ini kan inovasi baru, tapi untuk berhasil tidaknya nanti musim hujan. Tapi saya optimis," ujar Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Bandung Achmad Djohara, Sabtu (17/10/2020).

Penerapan teknologi ini dimaksudkan untuk menurunkan angka kejadian longsor di Kabupaten Bandung. Di mana, kejadian longsor di Kabupaten Bandung mencapai 100 kejadian dalam setahun.

"Bencana longsor di Kabupaten Bandung sangat tinggi meskipun tidak separah Bogor, Garut. Bandung juga cukup hati-hati di Cipelah, Ibun, Cimenyan. Karena hampir 70 persen wilayah Kabupaten Bandung gestur wilayahnya berbukit bukit. Longsor tanah itu bisa sekitar 100 kali kejadian dalam setahun," ujarnya.

Nantinya, apabila teknologi ini dinilai efektif mengantisipasi longsor, maka akan masuk dalam rencana anggaran di tahun berikutnya. Pasalnya, kata Adjo, pemakaian polimer dinilai lebih murah dibanding menerapkan betonisasi.

"Sekarang kita hitung juga, berapa rupiah untuk pot berapa rupiah untuk polimerasi. Bisa jadi tiga kali lipat lebih murah," ujarnya.

"Itu tergantung anggaran, dukungan dari DPRD kita terus lakukan evaluasi. Kalau memang manfaatnya cukup tinggi biayanya cukup murah dibanding TPT (Tembok Penahan Tebing)," tambahnya.

Di pihak lain, selaku penyedia cairan polimer, Direktur PT Dekati Surya Buhmi Aditya MJ. Aditya mengatakan, polimer biasa digunakan untuk menguatkan tanah pada jalan.

"Seiring waktu karena dapat merekatkan tanah, dapat menurunkan penyerapan tanah terhadap air maka polimer digunakan untuk penanganan erosi dan longsor," ujar Aditya.

Di Kabupaten Bandung, dirinya mencoba metode yang berbeda, di mana polimer disandingkan dengan tanaman vetiver. Hal tersebut pertama kali dilakukan di Indonesia.

Selain itu, ia menjelaskan penyemprotan polimer dilakukan pada lereng tanah yang berisiko longsor. Untuk mengantisipasi penyerapan air berlebih, pihaknya menggunakan sebuah paralon.

"Bentuk tanah berbeda ada yang landai dan miring. Di kemiringan kami lakukan perawatan, dia akan jatuh langsung drainase. Tapi di tanah yang landai air akan masuk dan kita menggunakan pipa tersebut agar air dapat keluar. Tapi sisa air tersebut dimanfaatkan oleh tanaman," katanya.

Aditya menjelaskan, dalam sekali penyemprotan, tidak langsung mengeras melainkan membutuhkan beberapa hari agar tanah merekat. Dalam satu hari cairan tersebut akan mengering, kemudian pada hari ketiga akan mengeras.

Setelah disemprot, tanah yang merekat itu akan bertahan lebih dari setahun.

"Kalau cuaca cukup terang maka butuh waktu 1x 24 jam kering, 3x 24 jam optimal. Biasa lebih dari satu tahun dan bahkan biasa tidak pernah dilakukan penyemprotan ulang," paparnya.

Dengan penerapan teknologi ini diharapkan dapat mengurangi kejadian longsor yang sering kali terjadi di Kabupaten Bandung.

(ern/ern)