Warga Kecam Aktivitas Tambang Batu Ilegal di Bentang Alam Geopark Ciletuh

Syahdan Alamsyah - detikNews
Selasa, 13 Okt 2020 08:55 WIB
Tambang batu ilegal rusak bentang alam Geopark Ciletuh Sukabumi
Foto: Tambang batu ilegal rusak bentang alam Geopark Ciletuh Sukabumi (Istimewa).
Sukabumi -

Pertambangan batu ilegal di Desa Kadaleuman, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi merusak kawasan Cagar Alam Leuwikenit. Warga menyesalkan aktivitas pertambangan tersebut karena untuk penetapan status cagar alam mereka harus berjuang selama 3 tahun.

Yudi Taufik Ismail, pengelola kawasan wisata cagar alam Leuwikenit mengatakan aktivitas pertambangan di kawasan itu memang sudah terjadi sejak beberapa tahun silam bahkan melibatkan aktivitas warga negara asing asal Korea. Namun pertambangan itu ditutup oleh masyarakat.

"Dulu sebelum kami merambah untuk status cagar alam di situ ada pertambangan orang Korea, di seberang desa. Di Desa Kadaleman pinggiran sungai juga dibabat, sampai kemudian ditutup oleh masyarakat namun di Kadaleman ada yang masih berjalan tapi di atas. Sampai kemudian saya kaget melihat ada aktivitas tambang di kawasan bawah dekat aliran Leuwikenit," ucap Yudi kepada detikcom, Selasa (13/10/2020).

Tidak mudah dijelaskan Yudi ketika pihaknya dalam memperjuangkan kawasan itu sebagai lokasi wisata. Perlu 3 tahun menurutnya hingga penetapan kawasan itu menjadi bagian dari Geopark Ciletuh Palabuhanratu.

"Leuwikenit itu sudah didaulat menjadi kawasan cagar alam, jadi Geopark Ciletuh Palabuhanratu itu memiliki bentangan cagar alam untuk Kecamatan Ciracap diwakili oleh Leuwikenit, Kecamatan Ciemas oleh Panenjoan, Kecamatan Cisolok diwakili oleh Cipanas. Jadi sudah ada ketetapan seperti itu, pertanyaannya kok bisa ada aktivitas tambang di kawasan cagar tersebut, perjuangan kami bukan sebulan dua bulan tapi tiga tahun," ujarnya.

Batu yang ditambang dari kawasan itu dijelaskan Yudi biasa digunakan untuk bahan pondasi rumah hingga urugan pembangunan jalan. "Kalau kami mengelola secara legal memperkenalkan kawasan itu sebagai daya pikat wisata yang harus dilindungi karena sudah berstatus cagar alam. Di lokasi itu kami hanya menyediakan (atraksi) wisata River tubbing, panjat tebing dan flying fox," jelas dia.

Yudi mengaku sudah mengadukan hal itu ke aparat desa setempat. Bahkan ia akan segera melaporkan ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sukabumi.

"Bisa saja saya melapor ke Polres karena dengan sengaja merusak kawasan cagar alam Geopark. Pihak desa katanya mau menyetop, katanya kalau bandel silahkan mau dilaporkan juga katanya begitu. Kami sebagai pengelola akan melihat apakah masih ada aktivitas tambang atau tidak di situ," ujar Yudi.

Ketika dimintai tanggapannya, Kepala Dinas Lingkungah Hidup Dedah Herlina belum memberikan jawaban terkait aktivitas tambang tersebut.

Lihat juga video 'Penertiban Tambang Ilegal di Babel Diwarnai Bentrokan':

[Gambas:Video 20detik]



(sya/mso)