Ridwan Kamil Rapat Virtual dengan Luhut, Bahas Apa?

Yudha Maulana - detikNews
Jumat, 09 Okt 2020 18:24 WIB
Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, menemui massa buruh dan mahasiswa yang melakukan aksi menolak Omnibus Law Cipta Kerja di depan Gedung Sate, Kota Bandung.
Ridwan Kamil (Foto: Wisma Putra/detikcom)
Bandung -

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan gubernur lainnya melakukan rapat virtual bersama Menteri Koordinator Maritim dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Panjaitan dari Gedung Pakuan, Kota Bandung, Jumat (9/10/2020). Apa yang dibahas ?

Ridwan Kamil mengungkapkan dalam rapat virtual itu, pemerintah pusat melalui BNPB mengeluarkan surat edaran bagi kabupaten/kota untuk melakukan siaga 1 jelang musim penghujan ekstrem, yang berpotensi memicu bencana hidrologi.

"Ada potensi musim penghujan yang ekstrem, jadi BMKG melaporkan agar provinsi-provinsi di Jawa, bersiap-siap. Maka tadi ada BNPB Pak Doni Monardo dan kita sedang mengeluarkan edaran ke kota/kabupaten agar siaga 1, ya ditambah karena potensi ada bencana banjir saat COVID-19," ujar Ridwan Kamil di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Jumat (9/10/2020).

Pria yang akrab disapa Kang Emil itu mengatakan, pada masa pandemi COVID-19 ini tempat pengungsian pun harus dirancang khusus agar tak menjadi sarana penularan COVID-19.

"Maka tempat-tempat pengungsiannya harus berbeda dengan tahun lalu, jadi harus lebih besar, lebih berjarak sehingga kalau mau bilang ya, kalau ternyata kejadian kebencanaan, protap ke pengungsian itu sudah jauh lebih baik," kata Kang Emil.

Selain itu, Kang Emil dan Luhut juga membahas mengenai potensi klaster terbaru dari aksi demonstrasi yang terjadi belakangan ini. "Karena rata-rata belum selesai diswab, semua yang ditahan. Saat ini ditahan dilakukan rapid test, dan banyak yang reaktif," ucap Kang Emil.

Kang Emil tak merinci berapa jumlah pericuh yang menunjukkan indikasi reaktif dari rapid test, namun andaikata setelah dites usap hasilnya positif COVID-19, maka pasien tersebut akan tetap mendapatkan perawatan.

"Ya kami tidak akan memperlakukan beda, yang namanya positif OTG ya dikarantina mandiri, kalau dia ada komorbid (penyakit penyerta) agak parah ya ditarik ke rumah sakit, tracing orangtuanya, tetangganya dikali 24 orang, kita tes PCR lagi, kita gak pirit-pirit (pilah-pilah) mau kaya atau miskin atau bagaimana pun juga," tuturnya.

(yum/mud)