Alasan Ridwan Kamil Jadi Relawan: Banyak Hoax soal Vaksin COVID

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 09 Okt 2020 18:13 WIB
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menunjukan lengannya yang telah di suntikan vaksin, di Puskesmas Garuda, Bandung, Jawa Barat, Senin (14/9/2020). Gubernur Jabar Ridwan Kamil, bersama Kapolda Jabar Irjen Pol Rudy Sufahriadi, Pandam III Siliwangi Mayjen TNI Nugroho Budi Wiryanto dan Kepala Kejati Jabar Ade Eddy Adhyaksa menjalani uji klinis tahap tiga berupa penyuntikan vaksin COVID-19. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/hp.
Gubernur Jabar Ridwan Kamil jadi relawan vaksin COVID. (Raisan Al Farisi/Antara Foto)
Jakarta -

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (RK) mengungkapkan, banyak berita bohong yang beredar seputar vaksin Corona. Untuk itu, ia mendaftarkan diri sebagai relawan vaksin untuk melihat secara langsung.

"Sebelum saya jadi relawan, banyak hoax, berita bohong. Bahwa vaksin ini tidak halal, justru menimbulkan tubuh, vaksin ini jualan dari Tiongkok, dibisniskan, pokoknya membuat orang antipatif, ditambahkan tuh nggak ada pemimpin yang mau jadi relawan. Berarti rakyat dikorbankan, rakyat jadi kelinci percobaan. Gara-gara itulah saya, Kapolda (Jabar), Pangdam (Siliwangi) daftar jadi relawan," kata RK dalam wawancara dengan Jubir Satgas Penanganan COVID-19 dr Reisa Broto Asmoro di saluran YouTube Setpres, Jumat (9/10/2020).

Pria yang akrab disapa Kang Emil ini mengaku tidak ada dampak medis yang dirasakan usai divaksin. Ia berharap reaksi antibodinya mencapai 90 persen usai divaksinasi.

"Intinya nggak ada dampak medis. Dengan saya divaksin, saya jadi saksi utama. 'Pak Gub berhasil nggak? Berhasil. Saya ikut disuntik, ini buktinya'. Kalau gagal, saya bilang 'kurang berhasil'. Itulah pentingnya saya ikut itu, bukan katanya-katanya," sebut Kang Emil.

"Nggak ada masalah. Biasanya kalau vaksin itu demam tapi tidak lama, tapi bengkak-bengkak. Dua-duanya saya nggak ada," imbuhnya.

Kang Emil berharap vaksin Corona berhasil dilaksanakan di Indonesia. Ia menyampaikan tantangan yang dihadapi selanjutnya adalah jumlah tenaga medis untuk memvaksinasi rakyat Indonesia. Untuk itu, ia mengusulkan kepada Presiden Jokowi supaya TNI dan Polri juga dilatih mengenai vaksinasi Corona.

"Karena kalau jumlah dokternya seperti hari ini, bisa setahun seluruh rakyat Indonesia disuntik. Makanya saya titip ke Pak Jokowi, 'pak kalau boleh dilatih TNI-Polri supaya bantu dokter menyuntik vaksin'. Tanpa itu, kta terlalu lama sehingga baru 2022 normal baru kita, kalau bisa dikompres 3 bulan, insyaallah 2021 bisa lebih baik dibanding tahun ini," ujarnya.

(dkp/fjp)