BEM Unikom Jelaskan Duduk Perkara Biaya Wisuda Mahal

Siti Fatimah - detikNews
Senin, 05 Okt 2020 13:35 WIB
BEM Unikom angkat bicara mengenai biaya wisuda mahal yang jadi perbincangan publik
BEM Unikom angkat bicara mengenai biaya wisuda mahal yang jadi perbincangan publik (Foto: Siti Fatimah)
Bandung -

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Komputer Indonesia (Unikom) Archy Renaldi Pratama Nugraha menjelaskan, awal perkara biaya wisuda mahasiswa pada 24 Oktober 2020 mendatang. Permasalahan biaya wisuda tersebut muncul dari pertanyaan orang tua wisudawan terkait rincian pembiayaan sebelum sidang skripsi.

"Di Unikom ada kebijakan sebelum skripsi harus sudah melakukan pembayaran atau pelunasan. Nah dari kebijakan tersebut mungkin wisudawan ke orang tua meminta untuk melakukan pembayaran tersebut lalu orang tua menanyakan Rp 3,7 juta untuk apa saja," kata Archy kepada detikcom, Senin (5/10/2020).

"Kita sedang dalam kondisi Pandemi kan yah, uang berapapun kan itu lumayan untuk penghidupan yang membuat teman-teman gelisah," tambahnya.

Lebih lanjut, wisudawan hanya dapat menjelaskan kepada orang tua mereka perihal biaya Rp. 1.075.000 karena terdapat dalam Surat Keputusan yang dikeluarkan oleh Yayasan Science dan Teknologi (Unikom) pada 8 Juni lalu.

"Wisudawan hanya bisa menjawab yang Rp 1 jutaan itu karena di sana bulan Juni tanggal 8 yayasan mengeluarkan SK terkait besaran rincian bahwa 1.075 ribu itu misalnya ada honor pembimbing, honor penguji, honor dekan hingga ketua prodi, ada Haki (Hak Kekayaan Intelektual) lalu ada perpustakaan semacam itu totalnya segitu untuk S1," tuturnya.

Dia juga mengatakan, keputusan wisuda online baru disampaikan pihak kampus pada 23 September 2020 lalu. Padahal rencana awal baik untuk wisuda ganjil dan wisuda genap diproyeksikan secara offline.

"Hingga sampai Jum'at kemarin (2/10) dari pihak kampus belum mengeluarkan penjelasan dan dalam prosesnya teman-teman sudah melakukan pertanyaan dari tingkat jurusan pada Kepala Prodi namun tidak menemukan jawaban, ke Dekan tiap Fakultas pun tidak menemukan jawaban terkait rincian yang Rp 2,6 juta tadi," tutur Archy.

Ada tiga ajuan pertanyaan wisudawan, pertama terkait keuangan Rp 2,6 juta, kedua terkait sistematika untuk wisuda online, dan ketiga wisudawan ganjil yang hingga saat ini belum menerima ijazah dan baru menerima legalisir ijazah asli.

Pihaknya selaku penghimpun mahasiswa telah melakukan berbagai upaya termasuk membagikan kuisioner kepada calon wisudawan. Dari hasil kuisioner tersebut terdapat 80 persen mahasiswa merasa perlu pihak kampus untuk menyampaikan peruntukkan besaran biaya wisuda tersebut.

Sementara itu, Archy mengatakan, akan melakukan audiensi hari ini bersama pihak kampus. "Saya lagi ikut audiensi dengan kampus," pungkasnya.

(mud/mud)