Potensi Tsunami 20 Meter

Cerita Mencekam Korban Selamat Tsunami Pangandaran 2006 Lalu

Faizal Amiruddin - detikNews
Minggu, 27 Sep 2020 09:25 WIB
Hari ini tepat 14 tahun musibah tsunami melanda Pangandaran.
Suasana Pantai Pagandaran (Foto: Faizal Amiruddin/detikcom).
Pangandaran -

Bagi sebagian masyarakat Pangandaran, membahas tsunami ibarat mengorek kembali luka lama. Betapa tidak, 14 tahun lalu tepatnya hari Senin (17/7/2006) petang, tanah pesisir ini luluh lantak disapu ganasnya gelombang tsunami. Setelah beberapa saat sebelumnya diguncang gempa berkekuatan 7,7 skala richter.

Berdasarkan catatan data WHO, akibat bencana itu ada 668 korban jiwa dan 65 orang dinyatakan hilang. Sementara kerusakan infrastruktur yang ditimbulkan menyebabkan kerugian hingga miliaran rupiah. Semua kegiatan manusia yang berada di dekat pantai, entah itu pariwisata, perikanan, investasi dan lainnya semua hancur. Butuh waktu berbulan-bulan untuk proses pemulihan dampak bencana itu.

Beberapa hari belakangan ini, hasil penelitian tim riset Institut Teknologi Bandung (ITB) menyampaikan peringatan akan kemungkinannya terjadi potensi tsunami setinggi 20 meter. Sontak hal itu mulai menjadi buah bibir di kalangan masyarakat Pangandaran.

Pro kontra terjadi, karena peringatan itu memantik benturan dengan kepentingan dunia pariwisata. Isu atau rilis hasil penelitian ITB tersebut dikhawatirkan akan membuat tingkat kunjungan wisatawan anjlok. Apalagi pariwisata Pangandaran baru saja merangkak bangkit setelah berbulan-bulan terdampak kondisi pandemi COVID-19.

Namun demikian kondisi pro kontra atau benturan antara kepentingan pariwisata dengan peringatan yang diungkapkan kalangan ahli, ternyata sempat terjadi pula sebelum tsunami Pangandaran 2006. Setidaknya ini diungkapkan oleh Deni 'Udek' Ramdani, seorang wartawan Ciamis sekaligus korban selamat tsunami Pangandaran 2006.

"Sebelum bencana terjadi, ada polemik dulu. Masyarakat Pangandaran terutama pelaku wisata banyak yang marah atas pemberitaan prediksi atau katakanlah isu tsunami," kata Deni, Sabtu (26/9/2020).

Dia menjelaskan tsunami terjadi pada Senin (17/7/2006). Sementara hari Sabtu-Minggu (15-16/7/2020) di Pangandaran digelar pesta layang-layang berskala internasional, karena pesertanya banyak yang dari luar negeri.

"Bupati Ciamis Engkon Komara (pada saat itu Pangandaran belum jadi daerah otonom) pada saat sambutan festival layang-layang sempat menegaskan bahwa Pangandaran aman. Statement itu beliau ungkapkan untuk menjawab keresahan yang memang sudah beredar," kata Deni.

Kala itu lanjut Deni, asumsi yang mementahkan isu potensi tsunami adalah fakta bahwa tsunami Aceh baru terjadi 2 tahun. "Jadi asumsinya, tak mungkin ada tsunami lagi. Karena siklus tsunami itu katanya ratusan tahun, 100 tahun sekali. Sementara kan 2004 sudah terjadi tsunami di Aceh," kata Deni.

Acara festival layang-layang saat itu berlangsung lancar dan sukses. "Saat itu saya juga sempat meliput kontes bonsai. Ramai sekali dan semua acara itu berakhir Minggu sore. Tapi saya memutuskan untuk tak pulang, ingin liburan dulu," kata Deni.

Senin petang, Deni mengatakan dirinya sempat duduk santai di pantai barat. "Menjelang waktu adzan Asar, seorang kawan dari Jakarta mengirim SMS. Dia tanya apa benar terjadi tsunami di Pangandaran. Ya saya bantah, kan saya sedang menghadap laut, tak ada apa-apa," kata Deni.

Dia mengaku tak merasakan ada gempa ketika itu, hanya saja saat berada di pantai dia mengaku pantai terlihat lebih luas. "Sesudah adzan Asar saya balik ke kamar. Saya menginap di sebuah penginapan sekitar pantai barat. Namanya lupa tapi lokasinya tak jauh dari pertigaan Century," katanya.

Saat berada di sekitar teras kamar, ternyata tsunami datang. "Saya tak melihat datangnya air dari pantai, karena terhalang bangunan. Saya hanya mendengar jeritan orang dan suara benturan keras sekali, mirip suara tabrakan mobil. Setelah itu air menyembur dari jendela dan pintu," katanya.

Selanjutnya dia tak ingat lagi apa yang terjadi. Hanya saja ketika tersadar Deni sudah berada di lantai dua bangunan penginapan itu. "Susah diingat adegan per adegannya, bagaimana saya yang asalnya berada di bawah bisa sampai ke lantai 2. Pokoknya pas saya sadar, badan basah kuyup, telinga kemasukan air dan posisi jadi berada di atas. Saya tak mengalami luka berarti," kata Deni.

Dia mengatakan di lantai dua saat itu ada 8 orang yang selamat. Untuk waktu yang cukup lama delapan orang itu hanya bisa termenung, tak saling bicara sama sekali. "Kami baru saling bicara setelah di bawah gaduh orang meminta tolong dan berteriak. Setelah itu kami turun, di bawah genangan air setinggi lutut," kata Deni.

Kendati banyak reruntuhan dan terdengar orang meminta tolong, dia fokus berjalan melewati reruntuhan dan menjauhi pantai sambil membawa galon kosong. "Suasana berantakan sekali, mirip suasana habis perang yang sering kita lihat di film-film. Orang tertimpa reruntuhan, orang tertusuk kayu, anak kecil menangis, mayat, saya saksikan sendiri," katanya.

Dia akhirnya bisa tenang setelah sampai di Masjid Agung Pangandaran, sambil membawa galon yang dia temukan di perjalanan. "Pikir saya kalau datang lagi air bisa dijadikan pelampung," kata Deni.

Di mesjid agung sudah penuh oleh orang yang menyelamatkan diri. Suara adzan dan shlawat terus dikumandangkan. "Setelah hari mulai gelap terdengar sirine ambulans dan pertolongan. Saya ingat mereka adalah tentara dari Yonif 323 Banjar. Semua mulai sibuk melakukan evakuasi dan saling membantu. Kawan-kawan wartawan sudah datang. Malam itu saya tidur di komplek rumah Bu Susi. Jujur saat itu saya tidak merasakan nyeri atau menangis. Besok paginya baru menangis dan merasakan nyeri-nyeri di badan," ujar Deni.

Tonton juga 'Melihat Desa Tangguh Bencana Sukabumi Siap Hadapi Potensi Tsunami':

[Gambas:Video 20detik]

(mso/mso)