Ancaman Tsunami 20 Meter, BPBD Sukabumi: Jalur Evakuasi Sedang Dibangun

Syahdan Alamsyah - detikNews
Kamis, 24 Sep 2020 20:58 WIB
Tim riset Institut Teknologi Bandung (ITB) beri peringatan akan kemungkinannya terjadi potensi tsunami. Diperkirakan tsunami terjadi di sepanjang Pantai Selatan Jawa Barat dan Selatan Jawa Timur.
Foto: istimewa
Sukabumi -

Tim Riset Institut Teknologi Bandung (ITB) menyampaikan peringatan akan kemungkinannya terjadi tsunami. Peneliti ITB Sri Widiyantoro menjelaskan tinggi tsunami dapat mencapai 20 meter di pantai selatan Jawa Barat dan 12 meter di selatan Jawa Timur, dengan tinggi maksimum rata-rata 4,5 meter di sepanjang pantai selatan Jawa jika terjadi secara bersamaan.

Kasi Kedaruratan BPBD Kabupaten Sukabumi Eka Widiaman mengatakan BMKG sedang membuat program pembuatan jalur evakuasi untuk menghadapi tsunami itu. Soal riset tersebut, Eka menjelaskan tsunami disebabkan oleh megathrust dengan kekuatan magnitudo bisa mencapai 8,7.

"Memang secara teori seperti itu karena megathrust yang bergerak tapi kalau sesar cimandiri yang bergerak enggak seperti itu gambarannya. Jadi hasil ITB itu sesar mana megathrust atau sesar cimandirinya," katanya.

Saat ini, kata dia, BMKG sedang membuat jalur evakuasi untuk menghadapi tsunami. "Pemprov Jabar juga punya program untuk pembuatan jalur evakuasi terutama difokuskan di Palabuhanratu mitigasinya," kata Eka saat dimintai tanggapan soal potensi tsunami tersebut, Kamis (24/9/2020).

BPBD Sukabumi pun, kata dia, di awal tahun sudah memasang papan perimgatan di Ujung Genteng dan Palabuhanratu.

"Bagaimana kita mensiasati menghadapi tsunami seperti ini. Berapa menit sih air sampai ke darat kan begitu ya, seperti apakah masyarakat menghadapi itu. Karena memang masyarakat Palabuhanratu dan Ujung Genteng terutama yang pantai selatan sudah sedikit pernah terlatih dengan kejadian tsunami yang di Banten. Sudah terlatih sudah terpapar mitigasinya tinggal sekarang tingkat kesadaran masyarakatnya saja," lanjut Eka.

Saat ditanyakan titik (evakuasi) di wilayah Palabuhanratu, Eka mengatakan hal itu merupakan kewenangan di bidang lain namun masih dikerjakan dan dianalisa. Meski begitu, seluruh potensi baik gempa maupun tsunami tidak bisa diprediksi.

"Yang namanya megathrust gempa dan sunami itu tidak bisa diprediksi kapan datangnya. Misalkan begini pemerintah Provinsi Jawa Barat kerjasama dengan BMKG. Hasil kaji teknis BMKG mengeluarkan SK siaga darurat kekeringan per 1 Agustus sampai Oktober 2020, sekarang Sukabumi malah banjir bandang," tutur Eka.

"Bisa saja meleset, tetapi minimal kita punya perencanaan, persiapan itu yang paling penting apa yang telah dilakukan oleh masyarakat, apa yang telah dilakukan oleh pemerintah di bantu oleh ahli ahli di bidangnya, sehingga kita tidak terlalu melenceng," pungkas dia.

(sya/ern)