Pilu Keluarga Eri, Warga Bandung yang Huni Rumah Nyaris Ambruk Atapnya

Siti Fatimah - detikNews
Rabu, 23 Sep 2020 09:41 WIB
Sekeluarga di Bandung tingga di rumah tidak layak huni dan membutuhkan bantuan
Keluarga di Bandung tingga di rumah tidak layak huni dan membutuhkan bantuan (Foto: Siti Fatimah)
Bandung -

Heri Pandi (58) sapaan akrab Eri, salah satu warga di Jalan Garuda Dalam I, RT 6 RW 3 Desa Dungus Cariang, Kecamatan Andir, Kota Bandung butuh bantuan untuk biaya pembenahan rumahnya dan pengobatannya. Saat ini dia dan keluarganya bertahan di rumah dengan kondisi yang memprihatinkan.

Rumah dengan ukuran kurang dari 4x5 meter terpaksa dihuni oleh lima jiwa. Atap dan kusennya sudah tidak berbentuk, ditambah dengan genting yang mulai ditumbuhi dengan tumbuhan liar karena tidak terurus.

Saat detikcom menyambangi di kediamannya, Eri tampak kesulitan bernafas. Rupanya dia mengidap penyakit paru-paru. Bukan tak ingin untuk memperbaiki rumah dan memulihkan kesehatannya, namun Eri menuturkan tidak memiliki kemampuan dari segi biaya.

"Bekas orang tua (rumah), cuman kebetulan orang tua kondisi ekonominya juga kekurangan ditambah buta atau tunanetra. Saya anak terakhir yang ngurus orang tua," kata Eri saat ditemui, Rabu (23/9/2020).

Dia mengatakan, selama mengurus ibunya 'nyambil' bekerja sebagai tukang servis barang elektronik. "Kerjanya buruh serabutan. Ngurus orang tua jadi ngambil yang bisa dikerjain di rumah. Elektronik juga autodidak, asal bisa betulin tv dan radio," tuturnya.

Selama dua tahun terakhir, kondisi rumahnya lebih parah dan tidak terurus sama sekali karena penyakitnya yang membatasi. Sebelum sakit, kata dia, kerusakan ringan di rumahnya masih sempat ia benahi. "Tapi sekarang buat naik ke atap aja ga sanggup," ujarnya.

"Kalau udah dengar 'geludug' (petir) udah dag dig dug, banjir sama bocor itu udah pasti. Banjir-banjir ke sini, di sini (bagian dalam rumah) keluar air. Makanya kena penyakit eksim karena airnya kotor," kata Eri.

Dua anak laki-laki, satu keponakan, dan istrinya tinggal di tempat yang sama. Seringkali anak-anak tidak tidur di rumah dan menginap di temannya. "Ya karena udah pada besar-besar dan kasian kalau tidur di sini. Bapak juga pisah tidurnya di tengah karena sakit jadi takut nularin ke yang lain," akunya.

Selanjutnya
Halaman
1 2