Kisah Yanti Lidiati yang Gigih Rangkul Anak Istimewa

Muhammad Iqbal - detikNews
Selasa, 22 Sep 2020 21:47 WIB
Yanti Lidiati
Anak-anak yang ikut kelompok bermain tersebut berasal dari beberapa desa di sekitar rumah Yanti. Anak-anak tersebut merupakan penyandang autis dan down syndrome. (Foto: Muhammad Iqbal/detikcom)
Kabupaten Bandung -

Sebuah ambulans baru saja tiba ke rumah nomor 177 di Jalan Oma Anggawisastra, Desa Lampegan, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung. Mobil itu bukan mengantar orang sakit, melainkan mengantarkan belasan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) ke rumah milik Yanti Lidiati (54).

Yanti lebih senang menggunakan istilah anak istimewa kepada mereka. Sudah lebih dua bulan, sepetak kebun di samping rumahnya disulap jadi arena bermain anak-anak istimewa pada setiap Minggu pagi. Terdengar suara ramai, Yanti pun keluar rumah dan menyambut mereka. Ia memeluknya satu persatu.

Belasan anak ditemani orang tuanya hadir ke taman yang banyak ditumbuhi pohon asam itu. Sebuah papan tulis dan karpet hijau sudah disiapkan oleh Yanti dan juga para relawan. Pada awalnya, kegiatan itu merupakan sebuah program CSR dari salah satu perusahaan di kawasan Kamojang yang hanya berlangsung delapan kali pertemuan.

Namun, dengan modal nekat, akhirnya Yanti memutuskan untuk melanjutkan program tersebut secara swadaya. Langkah ini disambut baik oleh anak-anak, orang tua, pihak desa dan perusahaan BUMN.

Yanti LidiatiAnak-anak istimewa ini bergabung dengan Kelompok Bermain Berdaya. Berdaya merupakan akronim dari kata yang berasal dari 'Berbeda tetap Berkarya'. (Foto: Muhammad Iqbal/detikcom)

Anak-anak yang ikut kelompok bermain tersebut berasal dari beberapa desa di sekitar rumah Yanti. Anak-anak tersebut merupakan penyandang autis dan down syndrome.

Ia menamakan kelompok itu dengan nama Kelompok Bermain Berdaya. Berdaya merupakan akronim dari kata yang berasal dari 'Berbeda tetap Berkarya'. Baginya, anak yang berbeda atau istimewa bukan pantangan bagi seseorang untuk bisa mendapatkan hak dan kesempatan untuk bersosial dan menggali potensinya.

Pada Minggu (20/9), detikcom berkesempatan melihat langsung kegiatan di Kelompok Bermain Berdaya yang dipimpin langsung oleh Yanti. Sebelum mulai belajar, mereka berdoa bersama dan dilanjutkan dengan senam ringan. Belajar di sini tidak seperti di sekolah, semua kegiatan hanya bermain dan menari.

"Ini adalah tempat bermain untuk anak, mereka boleh berkumpul, dan mereka bisa bersosialisasi dengan anak lainnya. Mereka memiliki komunitas yang bisa menghargai mereka," kata Yanti.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3