Dewan Minta Pemkot Bandung Matangkan Wacana Relaksasi Tempat Bermain di Mal

Wisma Putra - detikNews
Rabu, 16 Sep 2020 17:55 WIB
Tempat bermain di mal di Bandung.
Tempat bermain anak di Mal (Foto: Wisma Putra)
Bandung -

Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung berencana merelaksasi tempat bermain remaja yang ada di mal Kota Bandung. Padahal, saat ini kasus positif COVID-19 kembali terjadi di 30 kecamatan di Kota Bandung.

Ketua Komisi B DPRD Kota Bandung Hasan Faozi mengatakan, jika dirinya merasa senang dan was-was bila tempat bermain remaja di mal Kota Bandung kembali dibuka.

"Kalau saya sebagai Ketua Komisi B antara senang dan was-was. Kenapa senang, sedikit banyak ekonomi di kota sudah mau menggeliat lagi dengan adanya COVID-19, di lain sisi kita takut pengelolaan dari pihak pengelola terkait protokol kesehatannya diabaikan, ini yang kita takutkan," kata Hasan via sambungan telepon, Rabu (16/9/2020).

Menurutnya, jika anak remaja rentan terpapar COVID-19 sebagai orang tanpa gejala (OTG). "Apalagi anak remaja, dengan kondisi fisik anak-anak cenderung lebih kuat, sehingga yang ditakutkan (ada) OTG-OTG baru," ujarnya.

Lalu saat disinggung, apakah tempat bermain remaja di mal Kota Bandung laik dibuka atau tidak, Hasan menyebut harus dipikirkan secara matang

"Sebenarnya kita inginnya segala sesuatu dengan matang, dengan survei lokasi tempat bermain remaja harus diperhitungkan, antara geliat ekonomi berapa persen, dengan risiko berapa persen, kalau cenderung ke risiko lebih tinggi kalau saya pikir tolong dikaji ulang terkait relaksasi tempat bermain remaja ini," ungkapnya.

Menurutnya juga, antara pengelola, DPR dan Pemkot Bandung harus membuat kesepakatan agar tempat bermain remaja itu menjaga protokol kesehatan yang sangat ketat jika kembali di relaksasi. Namun, ia juga meminta jika direlaksasi harus ada pembatasan waktu.

"Kalau memungkinkan, intinya antara pihak pengelola, dengan kita sebagai eksekutif dan legislatif ikut melihat, memantau terkait penerapan protokol kesehatan. Kenapa, kalau memang sudah diterapkan semuannya, saya pikir boleh kita memberikan kelonggaran dengan pembatasan waktu misalkan satu bulan pertama, kita pantau apakah setelah relaksasi dibuka cenderung muncul OTG baru atau memang landai, kalau memang landai (bisa dibuka)," jelasnya.

Meski demikian, dirinya juga meminta kepada Pemkot Bandung agar benar mengkaji secara matang.

"Pengelola sudah menjaga protokol kesehatan secara benar, secara baik, tapi kan anak remaja ini kena OTG di tempat lain kan kita tidak tahu, dia kan berinteraksi dengan teman-teman nya di sana, kita kan tidak tahu (dikhawatirkan menularkan)," ujarnya.

"Intinya bahwa protokol kesehatan ini boleh di coba, kita pantau dalam sebulan itu gimana. Perkembangan COVID-19 di kita apakah landai, cenderung menurun atau cenderung meningkat. Kalau cenderung meningkat, relaksasinya harus dipantau lagi," pungkasnya.

(wip/mud)