Jaksa Urai Kronologi Eks Kalapas Sukamiskin Terima Suap Mobil Mewah

Dony Indra Ramadhan - detikNews
Senin, 31 Agu 2020 14:22 WIB
Sidang suap eks Kalapas Sukamiskin Wahid Husen.
Foto: Sidang suap eks Kalapas Sukamiskin (Dony Indra Ramadhan/detikcom).
Bandung -

Eks Kalapas Sukamiskin Wahid Husen diduga menerima suap dari seorang pengusaha bernama Radian Azhar untuk memuluskan menjadi mitra di Lapas Sukamiskin. Dalam dakwaan, jaksa KPK membeberkan rentetan aksi Wahid usai mendapat suap mobil mewah. Seperti apa?

Jaksa KPK Eko Wahyu P menjelaskan saat Wahid ditunjuk menjadi Kalapas Sukamiskin, Radian yang merupakan pemilik PT Glori Karsa Abadi langsung 'mendekati' Wahid Husen. Tujuannya, agar perusahaan Radian ditunjuk menjadi mitra di bidang percetakan.

"Terdakwa mengetahui maksud dari Radian Azhar dan mempergunakan kesempatan untuk menukar mobil milik terdakwa Toyota Kijang Innova dengan Fortuner keluaran terbaru," ucap Eko saat membacakan surat dakwaan di Pengadilan Tipikor Bandung, Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung, Senin (31/8/2020).

Radian menyanggupi dan menawarkan opsi mobil lain yakni Mitsubishi Pajero Sport Dakar 4x2 tahun 2018. Terdakwa berniat yang selanjutnya 'dieksekusi' oleh Radian.

Radian lantas mendatangi sebuah showroom mobil di kawasan Bekasi. Setelah cocok, Radian memesan mobil Pajero Sport itu yang memiliki harga Rp 517.000.000. Radian membayar booking fee terlebih dahulu sebesar Rp 5 juta.

"Terdakwa kemudian kembali bertemu dengan Radian Azhar membicarakan masalah percetakan yang belum dioperasionalkan karena belum adanya mitra. Terdakwa dan Radian Azhar sepakat nantinya perusahaan milik Radian Azhar akan ditunjuk menjadi mitra kerja sama," tuturnya.

Singkat cerita, Radian diperkenalkan oleh Wahid ke sejumlah staf di Lapas Sukamiskin. Wahid pun meminta anak buahnya membantu membuat draft kerja sama antara Lapas Sukamiskin dengan perusahaan Radian.

Namun sebelum draft itu rampung, Radian justru sudah menempatkan sejumlah karyawan di Lapas Sukamiskin untuk menerima order percetakan.

"Radian Azhar menempatkan beberapa orang karyawannya untuk mengoperasikan mesin alat cetak di Lapas Sukamiskin dan mulai menerima berbagai pesanan (order) baik dari pihak luar maupun pihak internal Lapas Sukamiskin. Terdakwa selaku Kalapas membiarkan kegiatan berlangsung padahal perusahaan milik Radian Azhar secara resmi belum menjadi mitra kerja sama karena belum ditandatangani nota Perjanjian Kerjasama (MoU) yang terlebih dahulu harus mendapat persetujuan dari Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kemenkumham Jawa Barat," tuturnya.

Setelah Radian 'menyusupi' orang ke Lapas Sukamiskin untuk bekerja, Wahid lantas menanyakan lagi perihal mobil yang dijanjikan. Radian lantas menyanggupi dengan membayar DP mobil Pajero Sport itu. Setelah mobil dibayar DP, mobil itupun diantar ke rumah Wahid Husen.

Dalam kasus ini, Wahid didakwa pasal berlapis yakni Pasal 12 huruf A, Pasal 12 huruf b dan Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

(dir/mso)