Menakar Kekuatan Kandidat Berstatus 'Bintang' di Pilbup Bandung

Dony Indra Ramadhan - detikNews
Rabu, 19 Agu 2020 10:28 WIB
Ketua Dewan Guru Besar UPI Karim Suryadi
Pengamat UPI Karim Suryadi (Foto: Istimewa)
Bandung -

Pilkada Kabupaten Bandung dihiasi sejumlah calon berstatus 'bintang' atau pesohor. Namun kehadiran bakal calon yang sudah punya nama ini dinilai hanya sebagai pendulang suara yang mengesampingkan faktor pengalaman.

Hal itu diungkapkan pengamat politik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Karim Suryadi. Sejauh ini, ada empat bakal calon pasangan Bupati-Wakil Bupati Bandung yang sudah muncul ke permukaan.

Keempat bakal calon tersebut di antaranya Dadang Supriyatna-Syahrul Gunawan, Gun Gun Gunawan-Dina Lorenza, Yena Iskandar Masoem-Atep dan Nia Agustina Naser-Usman Sayogi.

"Saya terus terang tidak mengerti mengapa trennya begini ya. Dalam artian mereka sangat mengutamakan popularitas," ucap Karim saat berbincang dengan detikcom via sambungan telepon, Rabu (19/8/2020).

Karim pun menyamai Pilbup Bandung ini bak makanan ali agrem yang menyerupai donat dengan lubang di tengah. Sehingga kata Karim, diasumsikan digaetnya para pesohor ini hanya sebatas pendulang suara.

"Kita tahu ada mantan pemain sepak bola, mantan artis, istri petahana, itu semua kan hanya diasumsikan mereka populer, karena populer dapat menjaring massa dan hanya dengan menjaring massa lah mereka akan mendapatkan kemenangan," katanya.

Menurut Karim, dengan munculnya para pesohor ini, Pilkada Kabupaten Bandung pun dinilai mengesampingkan faktor pengalaman atau track record. Sejauh ini, hanya bakal calon Gun Gun saja yang memiliki pengalaman sebagai kepala daerah lantaran saat ini duduk si kursi orang nomor dua se-Kabupaten Bandung.

"Ini sebuah nestapa menurut saya. Selain pandemi Corona yang mewabah di Kabupaten Bandung, juga ada wabah popularitas yang meracuni,. Begitu membaca, lengkap lah sudah mimpi buruk Kabupaten Bandung yang hanya di nina bobokan oleh popularitas seperti Ali Agrem (makanan) tapi tidak menjanjikan sebuah perubahan. Bagaimana mungkin perubahan didapat bila tidak ada track record, pengalaman jabatan dan lain-lain," tuturnya.

"Jadi menurut saya mereka hanya berpikir, politisi itu berpikir bagaimana caranya memenangkan kontestasi jadi mereka hanya memikirkan ya seperti dalam sepak bola saja, kalau tim lawan memasang artis, ya tampilkan artis. Kalau tim lawan menampilkan istri petahana yang populer, dihadang dengan popularitas. Lalu mau sampai kapan nasib Kabupaten Bandung ini menjadi mainan. Jadi bagi para politisi, pilkada hanya menjadi mainan saja," kata dia menambahkan.

Karim mengatakan dalam politik, kemunculan pesohor bukan semata-mata menjadi jaminan. Terlebih situasi pandemi COVID-19 yang saat ini tengah dihadapi, sambung Karim, masyarakat butuh sosok yang dapat menjadi figur yang bisa menyelesaikan masalah.

"Sudah jelas motivasinya mereka hanya vote getter. Mereka hanya vote getter dan mereka sadar ketika menerjunkan artis, menerjunkan olahraga macam Atep mereka tanpa kapasitas. Tapi mereka dipercaya sebagai solidariti makers. Tetapi mereka lupa bahwa artis tidak menjadi jaminan, olahragawan tidak menjadi jaminan bahkan istri petahana tidak menjadi jaminan, kenapa? Mereka lupa apakah kemunculan mereka di Kabupaten Bandung sebagai momentum atau bukan. Siapa Syahrul, siapa Dina Lorenza, siapa istri Bupati itu. Di tengah Pandemi seperti ini menurut saya adalah mereka yang bisa menyelesaikan masalah ini, punya pengalaman mengatasi atau setidak-tidaknya bisa merasakan bagaimana merasakan kekhawatiran, ketakutan yang dimiliki masyarakat Bandung," kata dia.

Tonton juga video 'Menakar Keahlian Menteri Muda di Kabinet Jokowi':

[Gambas:Video 20detik]



(dir/mud)